Solo Traveling ke Eropa — Part 6 — Day 5-7 Paris

Halo semuanya. Kali ini saya akan melanjutkan cerita perjalanan saya di Paris, The City of Light. Part sebelumnya bisa dibaca di sini. Selamat membaca.

Memasuki hari ke 5 di Eropa, pagi itu saya naik kereta dari Kortrijk Station (Belgia) menuju Paris Nord (Perancis). Nama keretanya Belgian Railways, total harga tiketnya €45.40. Sebenarnya situs rome2rio.com menyarankan saya untuk naik Intercity, tetapi mba loket tiketnya memesankan saya tiket Belgian Railways, jadi ya begitulah haha. Sama seperti ketika saya naik kereta dari Amsterdam ke Kortrijk, kali ini saya pun harus naik kereta dua kali. Pertama saya harus naik kereta ke Lille Flanders (Perancis), kemudian transit menuju Paris Nord (Perancis).

20170226_090629.jpg

Belgian Railways Ticket (Kortrijk to Paris Nord)

Day 5 – Arrived at Gare du Nord, Champ de Mars, and Rue Haxo

Saya tiba di Paris Nord (atau sering juga disebut dengan Gare du Nord yang artinya Stasiun Utara) jam 10 pagi waktu setempat. Di Paris, saya memesan kamar via Airbnb karena kamar di booking.com lumayan mahal dan menurut saya gak worth it, toh saya akan lebih banyak menghabiskan waktu di luar. Tempat menginap saya baru memperbolehkan check-in setelah jam 3 sore, jadi saya memang sudah berencana untuk menitipkan koper di Gare du Nord, jalan-jalan di kota Paris sampai sore, baru ke penginapan.

Saya menitipkan koper di luggage storage yang ada di Gare du Nord.  Luggage storage ini terletak di lantai -1 atau setara dengan lantai LG, kalau gak salah nama provider-nya Eelway. Sebelum memasukkan koper kita ke loker, semua koper harus melewati luggage scanner terlebih dulu seperti di bandara pada umumnya. Kemudian baru deh kita boleh masuk ke ruang penitipan. Di sini sistemnya self-service, jadi kita boleh pilih loker manapun, tinggal masukan koin untuk mengunci lokernya. Nah, awalnya saya bener-bener gak ngerti gimana cara mengoperasikan loker itu. Tanya sesama turis, mereka juga gak ngerti, haha. Mungkin kurangnya luggage storage ini ya petugasnya kurang inisiatif membantu gitu, padahal mereka pasti tau kalau banyak turis yang barely speak the language dan malu bertanya. Setelah saya inisiatif tanya petugas, akhirnya bisa juga tuh ngunci lokernya. Untuk 24h large locker, harganya €9.50, ada juga pilihan loker yang leih kecil atau pilihan jam yang lebih lama, yaitu 48h dan 72h.

Nah, setelah selesai menitipkan koper, saya sudah siap nih jalan-jalan di Paris sampai sore. Tujuan pertama hari itu tentu saja tujuan paling cliché: Eiffel Tower. Semalam sebelumnya saya sudah sedikit browsing tentang spot mana yang paling oke untuk melihat Eiffel Tower, dan saya memang berniat untuk mengunjungi tempat-tempat tersebut satu per satu. Pilihan pertama saya jatuh kepada Champ de Mars. Champ de Mars adalah taman yang terletak persis di depan Eiffel Tower, tempat yang paling umum dikunjungi turis-turis untuk mengabadikan Eiffel Tower. Untuk mencapai Champ de Mars dari Gare du Nord, saya menggunakan Metro, yaitu subway-nya Paris. Stasiun Metro terdekat terletak di dalam Gare du Nord, jadi saya tidak perlu keluar stasiun untuk mencari-cari stasiun Metro lagi. Mungkin kira-kira seperti ini lah rangkuman singkat tentang Metro-nya Paris, atau Metro de Paris.

Tentang Metro de Paris

Metro adalah salah satu transportasi yang paling umum digunakan oleh penduduk kota Paris (selain bus tentunya). Bentuknya kereta bawah tanah dengan berbagai macam koridor. Harga untuk single trip-nya adalah €1.90. Kalau mau sedikit hemat, tersedia 10-trip ticket dengan harga €14,50. Namun lagi-lagi karena saya lebih senang jalan kaki dan setelah di hitung pun saya tidak akan menggunakan Metro sampai 10 kali, saya memutuskan untuk membeli tiket single trip saja. Untuk membeli tiket, kamu bisa langsung menggunakan self-service machine yang tersedia di tiap pintu masuk stasiun. Biasanya emang agak ngantri sih, karena banyak banget turis yang pasti unfamiliar dengan mesin tiketnya, jadi saya selalu beli 2-3 tiket sekaligus supaya menghemat waktu. Tiket yang kamu beli untuk Metro juga bisa digunakan untuk naik bus dan tram, tapi tidak bisa untuk metro yang mengarah ke bandara. Satu lagi, walaupun koridor Metro banyak banget, kamu gak perlu khawatir nyasar, karena petunjuk arahnya sangat jelas dan tersedia di sepanjang stasiun.

Champ de Mars

Karena saya turun di stasiun Ecole Militaire, saya masuk ke Champ de Mars melalui Mur pour la Paix, atau Wall of Peace dalam bahasa inggris. Dari Wall of Peace ini sudah terlihat banyak rombongan turis dengan tour guide masing-masing, banyak juga solo travelers seperti saya, jadi sebenarnya tidak perlu takut jalan-jalan sendirian di kota besar seperti Paris.

DSCF4536.JPG

Foto pertama yang saya ambil di Paris dari Champ de Mars.

Saya menyusuri Champ de Mars menuju Eiffel Tower. Sepanjang Champ de Mars, banyak banget tukang jualan souvenirs (biasanya berkulit hitam) yang jujur, agak maksa gitu, sih, ngejualnya. Mereka pun bisa berbagai macam bahasa termasuk Bahasa Melayu! Sebenarnya, sih, hanya bahasa standar semacam “Ambil tiga, lima puluh dolar saja”, alih-alih si calon pembeli gak bisa Bahasa Inggris, atau sekadar strategi supaya orang-orang tertarik membeli. Namun, karena saya sudah diperingati oleh teman-teman saya kalau saya harus agak lebih berhati-hati di Paris (kata mereka, banyak copet dan penipuan), akhirnya saya memilih untuk tidak menghiraukan para pedagang tersebut. Selain itu, ada juga sejumlah anak-anak seumuran kuliah gitu yang menawarkan sumbangan, ciri-cirinya standar, sih, kayak di Indonesia, bawa-bawa kertas sama pulpen kemana-mana. Mereka bakal mulai ngajak ngobrol dengan “Speak english?” terus baru deh kalo kita tanggepin, mereka bakal tiba-tiba minta sumbangan gitu, gak tau buat apa. Positive thinking-nya sih beneran di sumbangin, ya, tapi saya memilih untuk gak dekat-dekat dengan mereka, atau ketika saya disamperin, saya pura-pura gak bisa Bahasa Inggris (Ya, untungnya yang jago berbagai bahasa cuma pedagang souvenir, anak-anak kuliahan ini gak bisa, haha).

Tidak jauh dari kaki Eiffel Tower, saya bertemu dengan turis dari Indonesia. Awalnya saya mendengar ada orang ngobrol dengan logat Indonesia, ternyata tidak jauh dari tempat saya berdiri, ada dua orang cewek yang lagi foto-foto. Akhirnya saya ajak ngobrol aja, sok kenal, #typicalextrovert. Ternyata dua orang cewek ini juga lagi liburan berdua keliling Eropa, tapi rutenya beda banget, kayak kalau saya tuh rutenya melawan arah jarum jam, kalau mereka searah dengan jarum jam. Dan akhirnya kita saling foto memfoto deh, haha.

DSCF4594.JPG

Diambil oleh turis lain dari Indonesia. Lucky me!

Rue du Commerce

Setelah puas foto-foto Eiffel Tower dari berbagai sudut pandang, duduk sejenak di kaki Eiffel Tower, memperhatikan gerak-gerik turis, berkali-kali bilang “No, thanks” ke pedagang souvenir dan orang-orang yang meminta sumbangan, akhirnya saya melanjutkan perjalanan. Agendanya? Gak ada. Cuma jalan-jalan santai di pusat kota aja. Mungkin itu yang paling enak dari jalan-jalan sendiri, gak masalah apakah kita punya rencana atau tidak, gak masalah mau duduk berlama-lama di satu tempat atau berkeliling ke 10 tempat sekaligus dalam sehari. Gak terpaut dengan jadwal siapapun, we create our own adventure.

DSCF4612

Typical street view of Paris

Waktu itu saya bener-bener jalan tanpa arah sampai akhirnya laper, dan ketemu McDonald’s #classic. Menariknya, pesan McD di sini tuh sistemnya self-service, kayak ada totem touch screen gitu, tinggal pilih menunya, terus bakal keluar receipt-nya. Receipt ini lah yang nanti kita bawa ke kasir. Atau kalau kita punya e-money, ya gak perlu ngantri lagi di kasir, tinggal nunggu di antrian ambil makanan. Sayangnya, saat itu McD-nya lagi super penuh, saya sampai gak dapet kursi gitu padahal sudah pilih dine in. Akhirnya saya memutuskan untuk makan di luar aja atau sambil jalan mungkin.

paris.png

Pantes laper, ternyata udah jalan kaki hampir 2 km.

Tidak jauh dari situ, ada halte bus yang ada free wi-fi nya. Karena saya memang fakir wi-fi dan terakhir ngabarin orang tua juga tadi pagi, akhirnya saya memutuskan untuk menghabiskan makanan saya di situ sembari update kabar ke orang-orang. Anyway, salah satu teman dekat saya sedang berulang tahun hari itu, jadi sebagai sebuah bentuk ucapan, saya memberikan foto ini—yang ternyata menjadi salah satu foto favorit saya selama berada di Paris.

DSCF4617.JPG

Happy birthday, Ginta!

Rue Haxo

Kira-kira jam 4 sore, saya kembali ke Gare du Nord untuk mengambil koper saya dan melanjutkan perjalanan ke penginapan saya yang letaknya kira-kira 10 km dari jantung Kota Paris. Ya, jauh, lumayan. Dengan Metro pun kira-kira masih dibutuhkan sekitar setengah jam untuk tiba di apartemen, lokasinya di Belleville, tepatnya di Rue Haxo. Apartemen tempat saya menginap ini saya pesan melalui Airbnb, harganya €79 untuk 2 malam, good deal karena saya dapat satu private room ukuran studio dengan harga tersebut. Untuk mencapai Rue Haxo dari Gare du Nord, saya naik Metro koridor 5, kemudian transit ke koridor 11 di stasiun Republique.

Saya turun di stasiun Telegraphe. Di stasiun ini, atmosfernya sudah sangat berbeda dengan atmosfer yang saya rasakan di pusat Kota Paris. Sunyi, cuma ada segelintir orang yang turun di stasiun ini, itu pun mungkin penduduk yang tinggal di sekitar sini. Sepanjang jalan pun hampir tidak ada turisnya. Stasiunnya pun tidak bisa dibilang bersih, banyak pedagang asongan semacam pedagang di stasiun dan terminal Jakarta , juga banyak grafiti-grafiti vandalism di sepanjang tembok stasiun. Ya agak serem juga sih sebenernya, apalagi hari juga sudah mulai gelap. Di daerah ini pun lebih banyak orang berkulit hitamnya. Walaupun memang banyak dari mereka yang copet atau kriminal, tapi saya salut, sih, karena setiap saya kesulitan mengangkut dua koper saya di sepanjang tangga stasiun, pasti orang berkulit hitam yang menawarkan bantuan untuk mengangkut koper saya. Jadi ya, mungkin itu lah mengapa kita tak pernah disarankan untuk judging people only from what you see on the outside.

Menurut peta, saya hanya perlu berjalan sejauh 500 meter lagi untuk mencapai apartemen. Sialnya, saya berjalan ke arah yang salah, jadi buang-buang waktu, deh, sekitar setengah jam, hanya untuk berbalik arah. Itu pertama kalinya saya beneran kesasar di sini. Rasanya? Capek, tapi sekaligus menyenangkan. Capek karena saya bawa dua koper dan jalanannya menanjak, menyenangkan karena saya tersesat di pemukiman warga yang jarang ada turisnya. Saya berkesempatan untuk melihat bagaimana penduduk asli Paris saling berinteraksi, membeli buah, menunggu bus datang, menyantap sandwiches di sebuah kafe kecil ala Paris, dan sebagainya.

Singkat cerita, akhirnya saya sampai di depan apartemen yang saya tuju. Apartemennya enam lantai, kamar saya berada di paling atas. Pare, pemilik kamar yang saya sewa, sudah memberi tahu saya password untuk masuk ke dalam gedung apartemen. Namun, ketika sampai di lobi apartemen, ternyata tidak ada lift. Sama sekali tidak ada lift. Mungkin memang saya yang kurang teliti ketika memesan kamar. Memang di Eropa jarang ada lift, tetapi seharusnya saya cek dulu apakah apartemennya ada lift atau tidak. Jadi, setelah nyasar kira-kira 700 meter dengan jalanan menanjak, bawa dua koper berat, ngos-ngosan, ternyata saya masih harus mengangkut dua koper saya menyusuri enam tangga. Hadeu. Benar-benar hari ter-zonk selama saya di Eropa.

Hari itu saya akhiri dengan mengobrol sebentar dengan Pare, si pemilik kamar. She’s about my age, undoubtedly pretty, and already living alone in her own apartment. I mean cool!

Day 6 – Notre-Dame Cathedral, Pont Neuf, Musée du Louvre, Jardin des Tuileries, Champs-Elysées, Arc de Triomphe, and Trocedéro. Fin.

Pagi itu saya bangun dengan rencana yang sudah sangat well-thought-out. Saya berencana berkeliling Paris dengan berjalan kaki—tentunya setelah saya naik Metro ke pusat kota. Sebenarnya banyak tempat yang ingin saya kunjungi di Paris, tapi karena waktu yang terbatas, terpaksa saya harus mengurungkan niat saya untuk menjelajahi Montmartre, sebuah distrik di utara Kota Paris yang kaya akan historical story-nya. Also, do not expect a journey full of sparkles in Disneyland. Yes, I am a Disney freak, but no, I’d prefer to stroll around the city than to spend the whole day at one single place.

Untuk memulai perjalanan hari ini, saya memilih untuk naik bus. Alasannya sesimpel karena belum pernah aja, dari kemarin kan naik Metro terus, hehe. Saya naik bus rute 96 menuju Notre-Dame Cathedral. Harga single trip untuk bus sama dengan harga Metro, yaitu €1.90. Tiket bus bisa dibeli langsung di supir busnya, tetapi karena saya masih punya satu tiket sisa kemarin, saya tinggal scan tiket saya di mesin tiket yang berada di dekat supir. Jarak antara apartemen saya dengan Notre-Dame Cathedral hanya sekitar 5 km, tetapi karena Paris merupakan kota sibuk yang setiap harinya kerap macet, jadi diperlukan waktu sekitar 30 menit untuk sampai di Notre-Dame Cathedral. Karena hari itu hari kerja dan saya pun berangkat di jam orang masuk kantor, jadi saya berkesempatan untuk melihat bagaimana orang-orang Paris berangkat kerja, sesimpel itu, sih, tetapi buat saya sangat menarik. Nah, yang saya suka dari kota ini adalah walaupun jalanannya macet, jarang ada yang bisa bahasa inggris, dan orang-orangnya selalu jutek kalau ditanyain (hu), di sini sebagian besar orang lebih memilih untuk berdiri daripada duduk ketika sedang berada di angkutan umum, baik di dalam bus maupun Metro. Beda banget sama apa yang kita lihat di Indonesia—khususnya Jakarta—di mana sudah umum hukumnya menyaksikan “perang dingin” dalam memperebutkan kursi di dalam angkutan umum. Hadeu.

First stop: Notre-Dame Cathedral

Saya turun di halte Hotel de Ville sekitar jam 9 pagi. Udaranya masih sangat dingin dan berangin. Hotel de Ville sendiri terkenal dengan arsitekturnya yang megah serta the iconic merry-go-round located right in front of the building. Sayangnya, saya tidak sempat mengabadikan apapun di Hotel de Ville karena udaranya sangat dingin dan saya tidak sanggup mengeluarkan tangan dari saku untuk memotret.

Di ujung jalan, saya sudah bisa melihat Notre-Dame Cathedral. Saya pun menyempatkan diri untuk membeli sandwiches seharga €4.50 di pinggir jalan dan menikmatinya sambil duduk-duduk santai di depan katedral. Hanya beberapa foto yang berhasil saya ambil di sekitar Notre-Dame karena udaranya masih dingin. Walaupun masih pagi, tetapi sudah banyak rombongan turis yang antri masuk ke katedral ini. Pemandangannya lebih kurang sama ketika saya di Eiffel Tower kemarin, banyak turis beserta tour guide masing-masing, hanya saja di sini saya tidak menjumpai pedagang souvenir seperti di Eiffel Tower, mungkin karena masih pagi. Karena antrian masuk ke Notre-Dame Cathedral sudah cukup panjang, saya mengurungkan niat untuk melihat bangunan ini dari dalam dan langsung beralih ke tujuan saya selanjutnya: Pont Neuf.

DSCF4628.JPG

Breakfast by The Notre-Dame Cathedral

Love locks at Pont Neuf

Pont Neuf adalah salah satu dari sekian banyak jembatan yang menyintas Sungai Seine. Dulunya, Pont Neuf tidak seterkenal jembatan di sebelahnya—Pont des Arts—yang dipenuhi oleh love locks super romantis dan instagrammable. Jika Pont des Arts adalah jembatan yang dibangun khusus untuk pejalan kaki, Pont Neuf berukuran lebih besar dan bisa dilewati oleh kendaraan. Nah, seperti yang kita ketahui, pada tahun 2015, seluruh gembok di Pont des Arts disingkirkan karena dirasa sudah keberatan dan berpotensi meruntuhkan jembatan tersebut. Inget ada campaign No Love Locks? Nah, setau saya, sih, sejak saat itu ritual gembok-menggembok “cinta” sudah dilarang di Paris. Saya pun awalnya tidak berekspektasi akan melihat the iconic love locks ketika saya mengunjungi Paris. Ternyata sejak tahun 2016, orang-orang kembali melakukan ritual ini, tapi kali di di jembatan yang lebih besar, yaitu Pont Neuf, yang letaknya persis di sebelah Pont des Arts. Belum banyak, sih, love locks yang ada di jembatan ini, setidaknya tidak sebanyak gembok di Pont des Arts yang sepertinya growth-nya berbentuk eksponensial selama 7 tahun itu.

DSCF4656.JPG

Deklarasi cinta-cinta palsu – Pont Neuf, Paris.

If you want to put one, there’s a stall nearby where you can purchase a padlock (or two! I mean sometimes you’ve got more than one love interest, right?). It costs €8 for a padlock, quite pricey for a symbolic, little gesture of “genuine” love which no one can assure will last forever. And to be honest, this romantic thing does not interest me that much, except the fact that it’s pretty much instagrammable, yes. So after taking a lot of pictures of this iconic love locks bridge, I immediately moved on to the next destination: Musee du Louvre.

Musee du Louvre

The second most famous tourist destination in Paris after the Eiffel Tower, the huge visual arts museum with an iconic pyramid glass in the middle called Musee du Louvre. Letaknya deket banget dari Pont Neuf, pun sebenarnya apabila kita menyeberangi Pont des Arts instead of Pont Neuf, kita akan langsung disambut oleh gerbang Musee du Louvre di ujung jembatan. Selain terkenal karena kemegahan museumnya, Musee du Louvre juga terkenal dengan pencopetnya. Sering banget denger cerita temen yang kehilangan dompet atau hp ketika sedang mengunjungi Louvre Museum. Makanya saya super hati-hati, karena tempat ini jauh lebih ramai dibandingkan Eiffel Tower. Walaupun waktu masih menunjukkan jam 10 pagi, tapi sudah banyak banget turis yang mengantri masuk ke dalam, bahkan antriannya lebih panjang dari yang saya lihat di Notre-Dame Cathedral. Wajar saja, museum ini memang sarangnya lukisan-lukisan paling terkenal sedunia, salah satunya adalah lukisan Mona Lisa karya Leonardo da Vinci. Akan tetapi, kalau mau menjelajahi seluruh isi museum ini, kita perlu menghabiskan satu hari penuh, atau mungkin dua hari. Museum ini besar banget, asli.

DSCF4682.JPG

Seperti biasa, minta tolong turis lain untuk mengambil foto saya. Musee du Louvre, Paris.

Saya sendiri memilih untuk tidak masuk ke museum, hanya mengambil beberapa foto di kompleks Louvre. Jujur, walaupun sudah berkali-kali memotret dari berbagai sudut, saya tetap tidak menemukan sudut yang pas, alhasil foto-fotonya juga biasa aja, bahkan gak lulus seleksi masuk ke blog post ini, haha.

Winter at Jardin des Tuileries

Up next, jalan kaki menelusuri taman super panjang.  Karena masih musim dingin, jadi gak bisa liat apa-apa kecuali ranting pohon, kolam di tengah taman, dan a sight of bianglala di ujung taman. Taman ini tidak begitu ramai, mungkin karena memang masih musim dingin. Hanya ada beberapa turis dan orang-orang jogging.

DSCF4685.JPG

Jardin des Tuileries / Tuileries Garden

Champs-Elysées

Menyintasi Jardin des Tuileries, lurus sedikit, ketemu deh Champ Elysées, pusat perbelanjaan utama di Paris. Di sepanjang jalan ini, kita akan banyak menjumpai store dengan brand ternama, ada juga Disney Store, Ladurée, banyak deh. Kalau kamu senang belanja, pasti senang, deh, menghabiskan berjam-jam di Champs-Elysées. Selain Champ Elysées, ada pusat perbelanjaan lain yang letaknya agak jauh dengan Champs-Elysées, yaitu Galeries Lafayette. Namun, saya tidak menyempatkan diri kesana karena pada dasarnya saya memang tidak ada niat untuk belanja-belanja, sih, hehe.

Tidak lama setelah saya sampai di sini, hujan. Sebenarnya saya bawa payung, sih, tapi saat itu anginnya kenceng banget, payung saya sudah hampir terbang gitu. Jadi saya terpaksa berteduh dulu di salah satu toko, lumayan lama, sekitar setengah jam. Champs-Elysées cukup ramai dengan turis, mungkin sebagian besar menuju Arc de Triomphe yang berada di ujung jalan ini. Beberapa store di Champs-Elysées menyediakan free wi-fi, jadi sambil menunggu hujan reda, lumayan deh bisa browsing tempat-tempat yang patut di kunjungi sepanjang Champs-Elysées. Selain itu, di sini juga bertebaran banyak toko oleh-oleh, kebanyakan, sih, letaknya di ujung jalan, dekat Arc de Triomphe. Namun, saya tidak menyarankan beli oleh-oleh di tempat ini, karena harganya relatif lebih tinggi, padahal barang yang dijual lebih kurang sama dengan yang dijual di stasiun.

DSCF4726

Champs-Elysées, raining version.

Arc de Triomphe

Tugu yang sangat mirip dengan tugu yang ada di Kediri, atau kebalik, ya? Monumen ini juga destinasi yang wajib dikunjungi oleh first-timer seperti saya. Yang menarik dari Arc de Triomphe adalah, jika kita menarik garis lurus dari Arc de Triomphe menyusuri Champs-Elysées, Jardin des Tuileries, Musee de Louvre, terus menuju tenggara, kita akan end up di Ka’bah. Saya sendiri baru tau dari 99 Cahaya di Langit Eropa, Masya Allah bukan main.

Bagi kalian yang ingin merasakan sensasi berada di atas Arc de Triomphe, kalian harus siap antri sepanjang-panjang dunia. Antriannya tidak sepanjang antrian di Louvre atau Eiffel Tower, sih, tapi tetep aja panjang, haha. Lagi-lagi, saya memilih untuk tidak menghabiskan waktu hanya untuk mengantri, jadi setelah memotret monumen ini dari berbagai sudut pandang, saya akhirnya kembali melanjutkan perjalanan. Maafkan, ya, gak ada info detail tentang tiket Arc de Triomphe ini, hehe.

DSCF4727.JPG

Arc de Triomphe, Paris.

Trocadéro

Tujuan selanjutnya terletak tidak jauh dari Arc de Triomphe, yaitu Trocadéro, yang hanya berjarak 1 km dari tempat saya berada. Akan tetapi, karena sudah lumayan lelah jalan kaki (ternyata saya sudah jalan kaki sejauh 6 km hari ini), Metro menjadi pilihan saya. Stasiun Metro terdekat adalah Stasiun Charles de Gaulle – Etoile yang terletak persis di belakang Arc de Triomphe. Sangat mudah mencapai Trocadéro dari Arc de Triomphe, kita hanya perlu naik koridor 6 dan turun setelah 3 stasiun di Stasiun Trocadéro. Ada apa, sih, emangnya, di Trocadéro ini?

DSCF4736.JPG

Trocadéro is the best spot to capture Eiffel Tower!

Ya, benar. Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, saya memang berniat mengunjungi titik-titik yang katanya sabi banget buat memotret Eiffel Tower. Nah, salah satunya adalah Trocadéro ini. Trocadéro ini sebenarnya berbentuk palace gitu, tapi orang-orang lebih mengenal Trocadéro sebagai spot untuk foto bersama Eiffel Tower. Trocadéro juga sering sekali digunakan untuk foto pre-wedding, setidaknya itu yang saya lihat di berbagai akun instagram, seperti @paris atau @living_europe. Foto di atas diambil dari terasnya Trocadéro, bentuknya semacam lapangan berubin super luas dan ada di atas bukit, itu lah mengapa hasil foto Eiffel Tower yang diambil dari Trocadéro selalu ciamik. Foto di atas pun belum di-retouched sama sekali, kalau sudah diedit pastinya bakal lebih sabi, hehe.

Hari itu diakhiri di Trocadéro, gak bosen memotret Eiffel dari terang sampai mulai gelap. Sebelum pulang, saya sempat kembali mengunjungi Wall of Peace di Champ de Mars seperti hari sebelumnya, walaupun cuma karena belum puas, sih, foto-foto Eiffel Tower dari Champ de Mars. Setelah itu baru, deh, pulang ke Rue Haxo. What a day!

paris 2.png

Total jalan kaki hari ini = 6 km.

Day 7 – Au revoir, Paris!

Hari ketujuh di Eropa, artinya saya sudah setengah perjalanan. Masih ada dua kota lagi yang akan saya kunjungi beberapa hari ke depan. Hari ini adalah jadwal saya untuk pindah ke sebuah kota yang terletak di jauh di sebelah timur Perancis. Eastern Europe, here I come!

Pagi itu ada satu lagi kebodohan saya. Setelah dengan susah payah mengangkut turun dua koper saya dari lantai enam ke lantai dasar, saya dengan pedenya naik bus yang sama dengan kemarin, yaitu bus rute 96, turun di stasiun Saint-Michel, lalu lanjut naik RER B ke CDG Airport. Naik bus adalah pilihan yang tepat jika kalian membawa koper banyak, karena jika kalian naik Metro, kalian akan bertemu banyak anak tangga sepanjang lorong menuju peron. Namun, saya dengan bodohnya salah naik bus, baru sadar ketika saya merasa aneh, kok, rutenya agak beda ya sama kemarin. Merasa gak yakin kalau saya salah bus, saya memilih untuk diam saja sampai stasiun akhir. Ternyata bener, salah bus, haha. Agak panik, sih, karena pertama, saya  gak inget apa ada rute alternatif menuju bandara selain menggunakan RER B, kedua, gak ada wi-fi, jadi saya gak bisa browsing rute alternatif, deh. Itu kondisinya saya turun di stasiun akhir, di pinggir jalan gitu, dan saya gak tau harus kemana.

Akhirnya, dengan kemampuan membaca peta yang alhamdulillah akhirnya terpakai juga, saya mencoba menerka posisi saya sekarang, dan mencoba jalan kaki sampai ke stasiun Saint-Michel, yaitu stasiun di mana saya seharusnya turun. Lumayan mudah, sih, karena saya hanya perlu menyusuri River Seine, tapi jalannya lumayan jauh…. 2 km. Ha ha. Ternyata pengalaman salah baca peta dan nyasar 700 meter beberapa hari lalu belum seberapa dengan apa yang saya alami saat ini. Lesson learned: Harus tetap bersyukur apapun bentuk kesialan atau kegagalan yang kita hadapi, because things can get any worse.

Alhamdulillah saya sampai di Saint-Michel dengan selamat walaupun sudah sangat ngos-ngosan. Akhirnya perjalanan saya di Paris berakhir. Nah, tiket kereta RER B menuju CDG Airport itu beda dengan tiket Metro biasa, harganya €10. Kereta RER ini memang tidak melewati banyak stasiun seperti Metro, hanya di titik-titik tertentu, seperti bandara, Gare du Nord, Disneyland Paris, pokoknya Paris Greater Area gitu deh. Tiket ini juga bisa dibeli di self-service machine yang ada di pintu masuk stasiun. CDG Airport sendiri pun hanya bisa dicapai dengan RER B, oleh karena itu lah saya harus menuju stasiun Saint-Michel terlebih dahulu, karena tidak ada RER B yang lewat stasiun di dekat tempat penginapan saya.

Ini pertama kalinya saya kembali ke bandara setelah terakhir kali mendarat di Schiphol Airport, Belanda. Kenapa kali ini saya pilih naik pesawat? Karena walaupun lebih mahal, tapi harganya tidak jauh beda dengan naik kereta. Selain itu, kota yang saya tuju setelah ini pun jaraknya agak jauh, butuh waktu sekitar 6 jam dengan kereta dari Paris, jadi saya mencoba mempersingkat waktu perjalanan dengan pesawat. Saya pakai LCC airlines, EasyJet, harganya sekitar IDR700k dari CDG-BUD. Good deal, sih.

Segitu dulu, sampai jumpa di Part 7 – Budapest!

Solo Traveling ke Eropa – Part 5 – Day 3-5 Kortrijk

KortrijkIn case you’re wondering where Kortrijk is.

Halo semuanya. Setelah 40 hari, akhirnya saya kembali melanjutkan cerita ini. Akhirnya kita sampai di bagian paling menarik dari perjalanan saya di Eropa. Kenapa? Karena kota yang saya kunjungi berikut ini bukan merupakan kota yang umum dikunjungi oleh turis. Saya pun pergi ke kota ini bukan untuk wisata, melainkan karena saya harus menghadiri conference untuk mempublikasikan skripsi saya. Saya pun tidak pernah mendengar ada kota yang namanya Kortrijk di Belgia sebelumnya. Di post ini, foto-fotonya sedikit banget karena sebagian besar waktu saya habiskan di tempat conference. But sure the story is interesting (for you wanderers). Disclaimer: This post is more to a personal story  I want to share than traveling tips. So please, enjoy.

Seperti yang terlihat di peta, Kortrijk terletak di sebelah barat daya Brussels, ibukota Belgia, dekat perbatasan Belgia-Perancis. Kota ini sama sekali bukan Rotterdam-nya Belanda,  Cologne-nya Jerman, Kyoto-nya Jepang, Malaka-nya Malaysia, atau Bandung-nya Indonesia. Belgia punya beberapa kota lain yang menarik untuk dikunjungi selain Brussels, seperti Brugge, Antwerp, dan Gent, tapi sama sekali bukan Kortrijk. Kortrijk benar-benar jauh dari turis. Bahkan ketika saya sedang dalam perjalanan ke Kortrijk, salah satu security di Antwerpen-Centraal Station bilang ke saya, “Kortrijk, huh? What are you up to? There’s nothing to see!” yang di telinga saya lebih kurang terdengar seperti, “Seriusan lu ke Kortrijk? Mau ngapain? Gak ada apa-apa di sana, asli!”

Well, we’ll see, sir. 

Day 3 – Adventure in Antwerpen, Campus Tour at Universiteit Gent, and Hostel Groeninghe

Cerita dimulai dari Amsterdam-Centraal Station, jam 9 pagi. Setelah beli tiket kereta Intercity (IC) menuju Kortrijk, saya langsung menuju Peron 14b tempat kereta saya akan tiba. Waktu itu beli tiketnya agak mahal sih, sekitar €50, karena saya waktu itu gak tau kalau ternyata bisa beli tiket non-refundable dan non-exchangeable yang jauh lebih murah. Lesson learned: Kalau mau hemat, lebih baik diperbanyak baca-bacanya, apalagi kalau mau pergi ke kota yang transportasinya lumayan mahal.

Masih ada sekitar setengah jam sebelum kereta datang, tapi saya memutuskan untuk duduk di peron saja, pengen tau gimana rasanya nunggu kereta antar kota, pengen merhatiin behavior orang-orang di stasiun. Anyway, untuk ke Kortrijk, saya perlu 2 kali naik kereta. Pertama dari Amsterdam-Centraal (Belanda) ke Antwerpen-Berchem (Belgia), kemudian transit ke Kortrijk (Belgia). Total perjalanan kira-kira 3 jam. Jadi kira-kira saya akan tiba di Kortrijk jam 1 siang. Ini pertama kalinya saya naik kereta antar kota di Eropa (dan sekaligus antar negara) (dan sekaligus sendiri). Agak-agak takut sih, takut melakukan kebodohan sampe ada barang yang ketinggalan, atau salah kereta, dan sebagainya.

Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya kereta saya tiba di Amsterdam-Centraal. Saya segera masuk dan memilih tempat duduk di satu gerbong yang memang khusus untuk orang-orang dengan koper besar seperti saya. Di gerbong ini kursinya cuma sedikit, jadi space untuk kopernya lebih luas. Ada beberapa orang di gerbong itu, kebanyakan turis yang juga bawa koper besar. Gak banyak hal yang bisa dilakukan sih sepanjang perjalanan. Sampai pada akhirnya keretanya tiba di Rotterdam, di mana sebagian besar penumpang turun, menyisakan saya dan seorang ibu dengan dua anaknya yang masih kecil. Sembari melihat offline map yang sudah saya install di hp, satu per satu stasiun dilewati. Sampai akhirnya saya tiba di Antwerp, stasiun di mana saya harus turun untuk transit. Si ibu dan dua anak yang satu gerbong dengan saya ternyata bersiap-siap turun juga. Just in case saya salah dengar, saya pastikan lagi ke si ibu, “Sorry, is it Antwerp?” “Ya, ya, Antwerp it is.” Oke, langsung deh saya ikut turun juga.

Dan ternyata salah stasiun. Hadeu.

Ternyata, seharusnya saya turun di Antwerpen-Berchem, tapi saya malah turun di Antwerpen-Centraal, dua stasiun sebelum Antwerpen-Berchem. Saya baru sadar ketika mengecek kembali tiket kereta saya sesaat setelah saya turun. Panik sedikit, saya segera cari orang yang mungkin bisa ditanya. Kebetulan posisi saya berada di dekat sebuah stall makanan, yaudah saya nanya ke mba-nya, sekalian beli waffle untuk sarapan (katanya kalau ke Belgia, hukumnya wajib untuk coba wafflenya). Dan bener aja, kata mba waffle-nya, saya salah stasiun. Untungnya, dia berbaik hati untuk ngecek apakah ada kereta yang juga tujuannya ke Kortrijk, jadi saya tidak perlu beli tiket lagi. Dia ngecek di sebuah aplikasi gitu, mungkin aplikasinya Intercity atau aplikasi kereta khusus Belgia. Di aplikasi ini, kita bisa lihat jadwal keberangkatan tiap kereta, semacam aplikasi KRL tapi versi lebih bagus. Alhamdulillah, ternyata kereta yang seharusnya saya tumpangi dari Antwerpen-Berchem ke Kortrijk akan lewat Antwerpen-Centraal dalam….. 5 menit lagi. 5 menit lagi. Lima. Menit. Lagi. “Thank God there’s this train to Kortrijk that will arrive at Peron 1 in 5 minutes. You gotta go now!!”

Antwerpen-Centraal.railway.station.original.31232Antwerpen-Centraal. I was in a hurry that I had no time to take photos of this beautiful building, so thanks Google for the picture. (Source: Google)

Katanya Peron 1 ada di lantai 1, artinya saya harus naik 3 lantai. Antwerpen-Centraal itu lumayan luas, langit-langitnya tinggi dan sebagian besar dibangun dengan kaca. Jadi dari tempat saya berada, sebenarnya saya sudah bisa melihat Peron 1, tapi jauhnya lumayan, gak yakin nyampe sana dalam 5 menit. Akhirnya saya literally lari ke atas naik eskalator sambil membawa dua koper saya. Sampai di Peron 1, ternyata keretanya sudah tiba. Di situ lah saya bertemu dengan security yang di awal tadi saya ceritakan. Baik banget, dia nganterin saya sampai ke gerbong 2nd class, dan ngambilin bantal tidur saya yang jatuh di sela-sela peron dan kereta (yes I was that stupid).

Begitulah petualangan super singkat saya di Antwerpen-Centraal. Alhamdulillah saya berhasil naik kereta yang seharusnya saya tumpangi dari Antwerpen-Berchem. Kortrijk here I come!

Saya tiba di Kortrijk jam 1 siang. Kortrijk memang hanya memiliki satu stasiun yang fasilitasnya belum selengkap Bruxelles-Midi atau Antwerpen-Centraal. Bentuknya mirip dengan Stasiun Manggarai-nya Jakarta, hanya saja Kortrijk Station jauh lebih sepi dibandingkan Manggarai. Karena fasilitasnya terbatas, termasuk hanya ada eskalator turun, tidak ada eskalator naik (yes it’s kind of weird), jadi saya harus mengangkat dua koper saya melewati tangga. Iya, capek, tapi malah itu yang akan selalu diingat dalam sebuah perjalanan—the moment you did something you never thought you could.

Saya langsung bisa melihat terminal bus Kortrijk—yang juga satu-satunya terminal bus di kota ini—di pintu keluar Kortrijk Station. Terminal bus ini lumayan kecil, cuma ada beberapa jalur, dan tidak ada bus yang “ngetem” atau ngantri seperti di terminal bus pada umumnya. Karena informasi di Google tentang Kortrijk juga sedikit, jadi saya belum sempat menemukan rute tercepat ke Universiteit Gent dari stasiun, hanya berbekal rute bus dari Google Maps yang sudah saya screenshot ketika di Amsterdam . Ya, rencananya memang ke Universiteit Gent terlebih dahulu, ikut program conference hari itu, baru check-in ke hostel. Saya mencoba bertanya ke sembarang orang, bus apa yang bisa mengantar saya ke Universiteit Gent, tapi ternyata orang-orang yang saya tanya tidak ada yang bisa bahasa inggris. Jadi saya memutuskan untuk ke loket petugas stasiun, yang ternyata kemampuan bahasa inggrisnya juga terbatas. Akhirnya saya mengandalkan screenshot dari Google Maps tadi, segera menuju peron tempat bus saya akan tiba.

Kesan pertama saya: Ternyata di Kortrijk banyak muslimnya. Saya melihat banyak orang yang mengenakan jilbab, jauh lebih banyak dibandingkan di Amsterdam. Sayangnya, kebanyakan dari mereka tidak bisa bahasa inggris, jadi saya agak sulit untuk berkomunikasi selama di kota ini. Mengenai busnya, harganya 3 per trip, cukup mahal sih, karena Kortrijk merupakan kota yang sangat kecil dan sebenarnya kemana pun bisa ditempuh dengan jalan kaki. Namun, berhubung saya masih membawa dua koper saya, jadi saya memutuskan untuk naik bus, yang ternyata gak sepadan karena jarak stasiun ke tempat conference hanya sekitar 1,5 km. Kalau dihitung, sebenarnya akan lebih enak kalau saya menitipkan koper di luggage storage stasiun, kemudian jalan kaki ke tempat conference.  Yasudah lah. Singkat cerita, saya tiba di Campus Kortrijk Universiteit Gent.

Saya disambut oleh seorang professor yang juga keynote speaker di conference ini. Jangan bayangkan conference di hotel yang banyak pesertanya, pakaian formal dari atas ke bawah, makanan mewah prasmanan, dsb. Conference ini cukup kecil, pesertanya meang berasal dari berbagai macam negara, tetapi kalau dihitung hanya ada sekitar 30 peserta. Beberapa orang yang sudah submit paper tidak bisa datang, mungkin karena kejauhan, mungkin karena tempat conference-nya terpencil, gak tau juga. Sebenarnya kalau memungkinkan, saya pun lebih memilih conference di kota atau negara yang lebih familiar, tetapi karena susah cari conference yang eligible dan sesuai dengan topik paper saya, jadi di sini lah saya.

Agenda hari itu adalah perkenalan dan campus tour. To be exact, conference ini dilaksanakan di Faculty of Engineering and Architecture, Universiteit Gent, Campus Kortrijk. Jadi, kami mengunjungi berbagai macam lab yang berhubungan dengan manufaktur, otomasi, pengembangan produk, dan sebagainya. Favorit saya adalah ketika mengunjungi Industrial Design Engineering Department. Rasanya seperti berada di laboratorium saya di UI, tapi jauh lebih keren. Kalau di kampus saya, mahasiswa hanya diharuskan membuat produk fisik biasa, tetapi di kampus ini, mahasiswanya juga diharuskan mengintegrasi produk tersebut ke aplikasi. Cool!

Acara selesai sekitar jam 6 sore setelah kami selesai makan malam. Makan malamnya memang tidak semewah itu, tapi hidangannya cukup menarik dan mengenyangkan. Setelah mengambil dua koper saya yang dititipkan di ruang panitia, saya kembali menuju halte bus terdekat untuk check-in ke hostel. Sebenarnya ada budget dari kampus sih untuk pesan hotel yang lebih decent, tapi saya memilih di hostel ini karena pada dasarnya ketika traveling, buat apa hotel bagus-bagus, toh kita juga akan lebih sering di luar. Ternyata, ketika sampai di hostel, saya lumayan kaget sih. Namanya Hostel Groeninghe, sekitar 2.5 km dari Universiteit Gent, gedungnya lumayan besar, bersih banget, resepsionisnya ramah banget, ada lift-nya jadi saya tidak perlu angkat koper lewat tangga (Iya, jarang banget ada lift di Eropa, even di apartemen), wi-finya super cepet, pokoknya lengkap deh.

Sama seperti di Amsterdam, kamar saya juga merupakan kamar asrama yang terdiri dari 6 tempat tidur. Namun tidak seperti di Amsterdam, kamar saya di Kortrijk jauh lebih luas, sekitar 6×10 meter, dengan kamar mandi yang juga sangat luas. Di kamar saya hanya ada satu penghuni lain yang sedang tidak ada di kamar ketika saya sampai. Setelah mandi dan bersih-bersih (Ya, selama di Eropa, saya selalu mandi di malam hari karena kalau pagi dingin banget), saya menghabiskan malam dengan latihan presentasi untuk conference esok hari.

Day 4 – Conference Time!

Malam ketiga di Eropa, tetapi saya masih jetlag. Saya bangun sekitar jam 3 pagi, seperti biasa, main hp sambil browsing kira-kira besok naik apa ke kampus. Saya gak mau lagi nunggu bus lama banget, sekitar setengah jam, dan harganya €3 per trip, sedangkan saya harus 2 kali naik bus karena tidak ada bus yang langsung menuju kampus dari hostel saya, artinya saya harus bayar €6. Akhirnya saya memutuskan untuk jalan kaki, yaitu sekitar 2.5 km dari hostel ke kampus.

Hostel to CampusLet’s conquer the city on foot!

Esok paginya, setelah sarapan dengan hidangan yang disediakan hostel, dengan pakaian formal lengkap dan coat, saya bertanya kepada resepsionis hostel, kira-kira lebih enak mana, naik bus atau jalan kaki walaupun agak jauh. Kata si resepsionis, kalau saya ingin naik bus ke kampus, jalan kaki dari hostel ke halte bus terdekat saja sudah setengah jalan menuju kampus, jadi lebih baik jalan kaki saja dari awal. Oke deh, saya langsung mantap jalan kaki 2.5 km pagi itu, lumayan lah sekalian olahraga.

Ternyata pilihan saya untuk jalan kaki tidak salah. Dengan jalan kaki, justru kita bisa lebih menikmati kota, apalagi di kota seperti Kortrijk yang memang tidak ada turisnya (atau mungkin ada, tapi hanya di pusat kota). Bener-bener ngerasain jadi warga lokal, jalan kaki sendirian pagi-pagi, cuma pake tas kecil, mampir sebentar ke minimarket buat beli air putih—oh! Yang saya suka dari kota ini adalah, air putihnya murah banget, cuma €0.5, biasanya €2 lebih—liat orang jalan-jalan sama anjingnya, menyenangkan lah pokoknya. Sayangnya saya tidak mengambil foto satu pun, even a single instastory. Lupa aja gitu, mungkin  karena terlalu menikmati.

Sampai di kampus jam setengah 10, sebenarnya sudah setengah jam telat dari acara. Ketika saya sampai, ruangan auditoriumnya sudah ramai, keynote speaker di atas panggung, dan ketika saya perhatikan sekeliling, ternyata di ruangan itu ada orang Indonesia-nya juga walaupun hanya satu orang. Sebenarnya saya sudah melihat namanya di conference program, tapi sayangnya orang ini tidak hadir di campus tour kemarin. Kami berkenalan ketika coffee break. Beliau adalah seorang dosen teknik industri di salah satu kampus di Sumatera Utara, dan ternyata salah satu keynote speaker hari ini adalah dosen beliau ketika S2 di Malaysia. Akhirnya kami bertiga ngobrol banyak sepanjang coffee break. Rasanya menyenangkan ngobrol dengan bahasa ibu setelah tiga hari ke belakang cuma ngobrol dengan bahasa inggris. Selain kami bertiga, ada sekelompok researcher dari Hong Kong yang sangat struggling dengan bahasa inggrisnya (which kind of cute because they teased each other about this),  ada beberapa professor dari Jerman, India, bahkan ada juga researcher dari Croatia.

That’s the thing about being far away from home. You meet new people, you learn how to communicate with people who don’t speak your language, you learn how to respect each other because they also respect you—for not drinking wine, for wearing hijab, for just being who you are. You feel fully fulfilled and content with this new experience, but at the same time, you miss the presence of the so-called home. Some people say that home is just a state of mind, but by wandering around like this, you will discover what home really is.

Acara dilanjutkan dengan presentasi satu per satu peserta mengenai paper-nya masing-masing. Bedanya dengan di Indonesia, di sana para audience selalu antusias melontarkan pertanyaan kepada sang presenter di akhir sesi presentasi. Bikin tambah deg-degan sih, takut ditanyain suatu hal yang saya gak tau jawabannya, or worse, takut gak bisa jawab karena saya bahan gak ngerti apa yang ditanyakan. Haha. Tapi alhamdulillah presentasi saya berjalan lancar. Sesi presentasi berakhir sekitar jam 6 sore. Lelah juga sih dengerin banyak orang presentasi dari jam 1 siang sampai jam 6 sore. Sebelum conference ini diakhiri, kami menyantap hidangan makan malam yang lebih enak daripada hidangan kemarin. Saling cerita tentang universitas masing-masing, budaya masing-masing. Seperti sebuah acara pada umumnya, conference ini diakhiri dengan sesi foto bersama. Dadah dadah, terus pulang deh.

Saya pulang ke hostel dengan berjalan kaki lagi. Kalau dijumlah, kira-kira saya sudah berjalan 5 km hari itu. Jalanan sudah gelap, dan ternyata Kortrijk malam hari jauh lebih sepi dibandingkan siang hari. Sejak saya berpamitan dengan orang-orang di conference, saya tidak melihat satu pun pejalan kaki sepanjang 2.5 km saya berjalan dari kampus ke hostel. Ada beberapa mobil yang lewat sih, tapi tetap saja rasanya sepi sekali kota ini, padahal waktu itu baru jam 7 malam. Sesampainya di hostel, saya tidak langsung tidur, tetapi kembali browsing kira-kira besok mau kemana. Pagi-pagi sekali ke Brugge, kemudian sorenya ke Paris, atau langsung ke Paris supaya punya waktu lebih lama untuk mengeksplor The City of Light?

Pagi-pagi sekali, setelah sarapan di hostel dan check-out, saya membawa 2 koper saya, berjalan kaki sekitar 1 km menuju Kortrijk Station. Surprisingly, begitu sampai stasiun, saya bertemu dengan sekumpulan peserta dari Hong Kong yang kemarin juga menghadiri conference. Katanya mereka mau ke Brussels, baru pulang ke Hong Kong. Saya pun segera membeli tiket kereta ke kota yang saya tuju—Paris!

Solo Traveling ke Eropa – Part 4 – Day 1-3 Amsterdam

Halo lagi.

Akhirnya cerita ini berlanjut haha. Episode sebelumnya bisa dibaca di sini. Oke, dalam postingan ini saya akan membahas tentang perjalanan selama di Amsterdam. Selamat membaca.

Perjalanan ini saya mulai di Bandara Soekarno-Hatta Terminal 2, dengan GA 88 yang rutenya sudah dihapal kebanyakan orang, CGK-AMS, jam 22.50. Ini bukan kali pertama saya pergi sendiri, tetapi kali pertama saya merasakan 14-hour direct flight—sendiri.

Saya duduk di dekat jendela. Sitting next to me, a couple who (I guess) came from Netherlands. Goosebumps banget, sih, because I was about to go to a place I’ve never been to, 7,000 miles away from home. Alhamdulillah sebelum take-off saya udah ngantuk dan tertidur pulas (haha bukan anak malem soalnya, jadi jam 11 malem udah ngantuk), jadi… deg-degannya berkurang lah. Bangun-bangun, udah ditawarin meals gitu. Makanan abis, baca buku (yang dibeli di Bandara karena manusia ini lupa bawa buku dari rumah) sambil Spotify, ke toilet, baca buku lagi, berusaha tidur, tidur ayam, bangun-bangun kok sampe India aja belum, tidur lagi, ditawarin meals lagi, ya gitu-gitu aja lah kerjaannya selama 14 jam. Beberapa kali pengen ajak ngobrol couple di sebelah karena gatel diem doang #extrovert, tapi mereka keseringan tidur juga. Heu. Singkat cerita, setelah 13 jam melakukan hal-hal yang itu-itu aja, akhirnya sampai juga di langit Eropa, masih gelap karena masih subuh, tapi saya tau karena jendela pesawat mulai membeku. Haha nggak sih sebenernya tau dari peta di screen pesawat yang menunjukkan bahwa kami sudah berada di langit Eropa.

Day 1 – Arrived at Amsterdam, Van Gogh Museum, and casual stroll around the city

Long story short, saya tiba dengan selamat di Schiphol Airport. Karena waktu itu masih sekitar jam 07.30, saya berencana untuk keliling sebentar di bandara yang katanya one of the busiest airports in the world ini dan jujur, bandara yang menjadi inspirasi saya untuk membuat skripsi tentang perancangan bandara. Jadi setelah ambil bagasi, pakai coat dan scarf (waktu itu 2 derajat celcius, dingin banget asli), saya keliling bandara layaknya turis. Paling penting, foto di signI amsterdam“, which is located right next to the bus stops.

DSCF4287

Day 1 – 22 February 2017 – Schiphol Airport (Amsterdam)

That day, Amsterdam was so cold and windy that I found it difficult to take some photos. Seriously, my hands were shaking and I had to hold my luggages with both hands because the wind would took them away if I didn’t (yea, it was THAT windy) .

Setelah ngaso di bandara, akhirnya saya memutuskan untuk memulai perjalanan. Tujuan pertama saya adalah ke tempat penginapan, sebuah hostel di kawasan Museumplein, namanya Hostel Cosmos Amsterdam. Saya pilih di sini karena selain paling murah di booking.com,  letaknya juga sangat strategis dari top destinations di Amsterdam.

Untuk transportasi, I did a little research before I arrived. Setelah baca-baca dan tanya teman, saya memutuskan untuk tidak membeli OV-chipkaart yang umum digunakan para locals, atau GVB day passes dan I amsterdam card yang umum digunakan para turis. Tempat-tempat yang ingin saya kunjungi relatif dekat dari penginapan, jadi bisa ditempuh dengan jalan kaki. Nah, untuk kamu yang masih bingung, apa saja, sih, perbedaan antara kartu-kartu ini, kamu bisa ke website I amsterdam di sini. Kalau malas ke websitenya langsung, saya coba rangkum ya.

Public transportation card options in Amsterdam:

  1. OV-chipkaart
    Menurut seorang teman saya yang sedang kuliah di sana (di Delft, sih, bukan di Amsterdam), OV-chipkaart ini paling umum digunakan oleh para residen. Kalau di Indonesia, OV-chipkaart ini bagai kartu flazz BCA atau e-money Mandiri, bisa digunakan untuk bus, tram, metro, dan kereta. Nah, sama seperti e-money di Indonesia, OV-chipkaart bisa dibeli di stations, minimarket, dan seharusnya tersedia juga di Schiphol, tapi saya gak ngecek juga sih, haha. Namun sayangnya, harganya €7.50, dan itu baru kartunya aja, belum credit-nya. Credit-nya harus isi lagi gitu dan harganya sesuai dengan single trip biasa, yaa persis lah kayak e-money di Indonesia. Nah, karena saya hanya stay di Amsterdam untuk 3 hari, jadi menurut saya sih kemahalan. Begitu. More about OV-chipkaart? Head over their website here!
  2. GVB day passes
    Nah, beda dengan OV-chipkaart, kartu ini memang diperuntukan untuk para turis, tersedia 1-7 day pass dan harganya lebih manusiawi daripada OV-chipkaart. Kartu ini bisa dibeli di Schiphol Airport, ada juga sih vending machine di beberapa bus stop, tapi jauh lebih mudah beli di bandara. Untuk yang 24 hours, harganya €7.50 dan sudah bisa naik tram, bus, dan metronya GVB sepuasnya. Kalau tram memang semuanya GVB sih, tapi kalau bus, ada GVB, Conexxion, dll. Jadi, paling kekurangan kartu ini yaa gak bisa naik bus selain busnya GVB, which is quite fine as GVB provides the largest network in Netherlands. Untuk harga lengkapnya, kamu bisa cek di sini, lengkap banget!
  3. I amsterdam Card
    Ini yang turis banget banget, karena selain public transportation, I amsterdam Card ini juga bisa digunakan sebagai tiket masuk top attractions di Amsterdam, seperti Van Gogh Museum, Canal Cruise, dan banyak lagi. Ada beberapa pilihan kartu, 24h (€57), 48h (€67), 72h (€77), dan 96h (€87). Kartu ini bisa didapatkan di Schiphol Airport, Amsterdam Centraal, atau di toko-tokonya I amsterdam yang tersebar di kota ini. Nah, karena harganya cukup mahal, pastikan dulu kamu mau kemana aja, jadi gak mubazir. Lagi-lagi, karena tujuan saya gak sebanyak itu, jadi saya memutuskan untuk gak beli kartu ini. Buat kamu yang tertarik beli kartu ini, langsung aja ke websitenya I amsterdam Card di sini.

Nah, setelah dihitung-hitung, ternyata dengan itinerary saya, lebih murah kalau gak beli kartu apa-apa. Jadi yaudah gitu aja. Dari Schiphol Airport ke penginapan, saya menggunakan Amsterdam Airport Express bus, provided by Conexxion. Harga tiketnya €5 untuk single trip, rutenya Schiphol—Amsterdam Centraal melewati titik-titik strategis di Amsterdam seperti yang terlihat di bawah ini. Naiknya darimana? Kamu keluar Schiphol Airport dulu, terus ke terminal (?) bus yang letaknya persis di depan pintu keluar. Nah, nanti naik line 197 bus dari peron B9. (Hehe informatif sekali Hutami Nadya)

Line 197 bus

Line 197 bus route (Schiphol Airport—Amsterdam Centraal)

Tiket bus ini bisa langsung dibeli di supir bis-nya dengan cash. Tapi salahnya saya waktu itu, saya baru purchase tiket sesaat sebelum saya turun (HAHA kebiasaan naik angkutan umum di Jakarta), supir busnya marah dikit karena seharusnya saya purchase ketika saya naik… Yaudah gitu, untung saya boleh turun. It took like 30 minutes from Schiphol to Museumplein stop. Saya turun di Museumplein, sekitar 200 meter dari penginapan. Karena di penginapan ini baru boleh check-in after 1 PM, rencananya saya ke penginapan, titip koper, jalan-jalan, kemudian balik ke penginapan untuk check-in di sore hari. Akan tetapi, namanya juga hostel, jadi tempatnya kecil banget, dan ternyata pihak hostel tidak menyediakan tempat untuk titip koper. Sial. Alhasil saya bawa-bawa koper ke bakery slash coffee shop terdekat untuk sarapan dan nunggu di situ sekitar 2 jam sampai jam 1 siang, supaya bisa check-in. Waktu itu saya ke Simon Meijssen di Van Baerlestraat, karena letaknya berseberangan dengan penginapan saya. Lumayan ada wi-fi, makanannya enak, dan affordable banget. Dan salah satu waiter-nya ternyata orang Jakarta! Dia tiba-tiba nyapa saya gitu, “Mba, dari Indonesia ya?” hehe jadi merasa punya temen. Kemudian ngobrol-ngobrol dikit. Ternyata 2 jam gak lama sih, sarapan, ngabarin mama kalau saya selamat sampai tujuan alhamdulillah, cek-cek social media mumpung ada wi-fi, gitu deh. And all of a sudden it’s already 1 PMlet’s go check-in!

Well, it was a female dorm of 4 people. It costs €16 for a night, quite cheap right? The room was really small you could barely unpack. They don’t have elevators, so I had to bring my luggages all the way through the stairs. Thank God my room was on the second floor, so it wasn’t really a big deal. Well, the good thing was, I’ve got one super clean bathroom in my room. My roomates were all solo travelers, coming from China and some countries in Europe. They’re nice, seriously. It was the very first time I shared room with strangers in a foreign country, but luckily there’s nothing bad happen during my visit. Well ok you know what? I should have wrote this when booking.com asked me to give feedbacks.

Setelah selesai check-in dan bersih-bersih, saya memutuskan untuk pergi ke Van Gogh Museum karena jaraknya paling dekat dari penginapan. Waktu itu hujan tapi gak deras-deras amat, jadi saya jalan kaki aja pake payung dari penginapan ke Van Gogh Museum. Harga tiket masuknya €17 untuk dewasa. Sebelum masuk ke area koleksinya, kita diharuskan untuk meninggalkan tas, payung, kamera, dan coat di tempat penitipan barang. Jadi saya cuma bawa hp saja ke dalam museum. Museumnya.. KEREN BANGET. Mungkin karena saya memang pecinta visual arts, jadi saya terharu banget ketika mengunjungi museum ini. Isinya memang cuma lukisan-lukisannya Vincent Van Gogh, but the way they design the museum experience, and the way they tell the story, is utterly fascinating. Saya menghabiskan waktu sekitar 2 jam di dalam museum. Karena gak ada foto selama di dalam museum, ya paling adanya foto di pintu masuk dan museum shops seperti ini.

DSCF4317

DSCF4321

DSCF4324You did, master!

Keluar museum, jam 5 sore. Hujannya sudah agak reda, jadi saya ingin melanjutkan keliling-kelilingnya. Seperti namanya, sebenarnya ada beberapa museum lain di kawasan Museumplein ini, tetapi saya lebih suka explore kota sih daripada menghabiskan banyak waktu di satu museum (kecuali nanti di Berlin karena their museums are the best! Woops wrong story, more on that later ya). Pertama, yang paling deket dari Van Gogh Museum, (another) I amsterdam sign and Rijksmuseum as the background.

DSCF4316.JPGTold you, it was raining all day.

Setelah itu tujuannya emang menelusuri canals, dan sempat mampir sebentar ke Bloemenmarkt, an alley full of stalls selling flowers and souvenirs. I spent the rest of the day taking pictures of the city. Pengen foto ala-ala, tapi masih malu minta locals fotoin, haha. Jadi lah beberapa foto amatir seperti di bawah. Jujur saya gak jago fotografi, jadi jangan kesel ya liat hasil foto-foto saya. Semua ini ditempuh dengan jalan kaki, lumayan itung-itung olahraga. DSCF4349.JPG

DSCF4341

DSCF4338.JPG

City of bikes!

Day 2 – Dam Square, Leidsestraat, Rijksmuseum, Vondelpark, and Red Light District a large bowl of soup

Malam pertama di Amsterdam, masih jetlag gitu. Saya bangun sekitar jam 2 pagi, maen hp dan berharap bisa tidur lagi. …Tapi gak bisa. Akhirnya jam 4 pagi, saya keluar kamar main laptop karena bosen. Mas-mas resepsionisnya ampek bingung kenapa ada manusia yang keluar kamar pagi-pagi banget. Sebenarnya gak main laptop banget sih, tapi benerin deck untuk conference lusa di Belgium (more on that later).

Di sana kalau gak salah terangnya baru sekitar jam 7 pagi gitu, dan saya baru keluar jam 10 karena laper (iya hostelnya gak nyediain sarapan). Ujung-ujungnya tetap ke Simon Meijssen di seberang hostel, haha. Hari itu lebih berangin daripada kemarin, bahkan teman saya yang di Delft juga sampai bilang “Ati-ati Tam katanya hari ini di Delft angin kenceng banget, gak tau sampe Amsterdam apa nggak.” Dan ternyata bener, hari itu lebih dingin dan berangin dari kemarin. Setelah makan, saya kembali ke penginapan karena gak kuat sama dingin di luar (wk payah). Tapi sayang kan, udah jauh-jauh kesini tapi gak kemana-mana. Jadi sekitar jam 1, saya nekat keluar aja. Hujannya udah reda, tapi anginnya masih kenceng banget, dan justru itu yang bikin kedinginan. Tujuan pertama hari itu adalah Dam Square.

Nah, hari itu saya naik GVB tram dengan one-hour ticket yang bisa dibeli cash di supir tramnya, harganya €2.90. Tiket ini bisa dipakai sepuasnya untuk naik GVB, tapi hanya dalam rentang waktu 1 jam. Saya jalan kaki dari penginapan ke Museumplein stop, dan naik GVB tram nomer 16 dari situ. Ini semua hasil tanya-tanya sama ibu-ibu di pinggir jalan, ya walaupun udah googling, tetap aja lebih enak nanya langsung ke orang, thanks ibu-ibu.

Saya turun di Dam Square stop. Cepet sih, mungkin 15 menit dari Museumplein. Kesan pertama… Wow! Rame banget. Bener-bener pusat turis di Amsterdam. Dam Square ini semacam alun-alun kota, sebuah lapangan dengan iconic building, dipenuhi dengan merpati dan turis yang foto ala-ala bersama para merpati, badut-badut berkostum lucu kayak di Alun-alun Bandung dan Kota Tua Jakarta, Nationaal Monument, Madame Tussauds, dan outlet-outlet dengan brand ternama yang mengelilingi lapangan tersebut. Well, sebenarnya penasaran dengan Madame Tussauds-nya Amsterdam, tapi sepertinya gak menarik buat solo traveling kayak gini. Akhirnya saya foto-foto aja di sekitar Dam Square.

DSCF4390.JPGDSCF4380.JPGDSCF4385.JPG

Setelah puas foto-foto (ya walaupun hasilnya gak bagus-bagus amat sih), saya masuk ke beberapa toko dengan brand yang pasti sudah kamu kenal banget. Paling saya inget sampai sekarang, sih, waktu mau masuk ke Forever 21, satpam yang jaga di pintu masuknya nyapa “Assalamualaikum.” Walah, senangnya. Itu, sih, yang saya paling suka dari Amsterdam, orang-orangnya paling ramah. Kalau lagi pesan makanan atau beli sesuatu, pasti disapa “Hello!” dengan lantang dan senyum lebar. Kalau abis bayar, pasti “Bye-bye!” dengan semangat. Mau sama resepsionis hostel, ticket guy di museum, mas-mas sandwiches di pinggir jalan, Starbucks, restoran, tempat souvenirs, semuanya gitu. Selama gak melakukan kesalahan atau melanggar peraturan kayak waktu saya pertama kali naik bus dari bandara, pasti ramah deh orang-orangnya.

Tujuan kedua, Leidsestraat, the main shopping street in Amsterdam. Jaraknya cuma 1 km dari Dam Square. Awalnya saya ingin naik tram lagi, tetapi karena keterusan menikmati jalan di Amsterdam, jadinya saya jalan kaki sampai Leidsestraat. Nah, Leidsestraat ini semacam Orchard-nya Singapore, tetapi jalanannya lebih kecil, lebih banyak pejalan kaki daripada tram (jalan ini memang cuma bisa dilalui tram dan pejalan kaki). I really like the ambience, idk it’s like I experience the true freedom here. Ya, banyak yang nyimeng juga. Yang paling saya suka di sini adalah, toko sneakers-nya berjejer sepanjang jalan… indah banget. Sayangnya, koper saya kayaknya gak muat kalau harus naro sneakers, jadi saya gak beli deh. Di sini banyak outlet clothing, cheese & wine, dan pastinya souvenirs. Souvenirs di Amsterdam agak unik sih, karena Amsterdam terkenal banget dengan drugs-nya, souvenirs-nya pun banyak embel-embel cannabisnya. Cokelat cannabis, lolipop cannabis, biskuit cannabis, etc.

Tujuan ketiga, sebenernya mau ke Rijksmuseum, tapi dengan kesotoyan tingkat tinggi, saya salah belok dan akhirnya memutuskan untuk ke Vondelpark dulu. Vondelpark adalah taman terbesar di Amsterdam. Sebenernya tempat ini rame kalau lagi spring, tapi karena winter, jadinya sepi, cuma ada beberapa orang jogging atau naik sepeda. Saya tetep kesini karena penasaran bentuk sebuah taman ketika winter. Haha. Tapi lagi-lagi, karena dingin dan anginnya kenceng banget, saya gak foto apapun di Vondelpark, sayang sekali.

Lanjut dari Vondelpark, Rijksmuseum. Sebenarnya emang gak berniat masuk, sih, karena takut buang-buang waktu. Nah, di sini saya cuma nonton street musicians sebentar. Ala-ala Once (2006) gitu deh, except they played classical. Luv banget.

DSCF4467.JPG

Definitely not a mere violinist and cellist.

Lumayan lelah juga, sih, keliling jalan kaki. Dan karena sudah mulai gelap dan lapar, saya memutuskan untuk kembali ke penginapan. Awalnya mau makan di sebuah restoran Indonesia yang ada di Van Baerlestraat (lupa namanya), tapi karena sepi banget gak ada orang sama sekali, jadi kurang meyakinkan.. (hu so sorry), jadi saya makan malam di Soup en Zo, letaknya satu gedung dengan penginapan saya, namun tempat makan ini berada di lantai dasar penginapan saya. Tempat makan kecil ini menyediakan berbagai macam sup. Saya pesan yang paling berdaging dengan ukuran besar, ditambah dengan teh hangat #tehdimanapunkapanpun #teamtea #teaovercoffee. Harga totalnya sekitar €7. Enak, tapi gak abis, karena ternyata ukuran large itu literally large, gak kayak di Indonesia. Haha. Berikut penampakan setelah saya kenyang.

DSCF4481.JPGBagaimana saya mengakhiri hari terakhir saya di Amsterdam.

Ya, kira-kira begitulah hari-hari saya di Amsterdam. Keesokan paginya, saya berangkat pagi-pagi sekali ke Amsterdam Centraal, lengkap dengan dua koper saya, untuk melanjutkan perjalanan ke Kortrijk, Belgium. Seperti kemarin, saya naik GVB tram nomer 16 lagi dari Museumplein. Well, sampai di Amsterdam Centraal Station, saya agak bingung, sih, beli tiketnya di mana. Di sana ada berbagai macam vending machine, dan saya sepertinya kurang googling deh, jadi gak tau harus beli tiket ke Kortijk di mana. Akhirnya saya tanya ke petugas di suatu loket di Amsterdam Centraal. Ternyata, untuk kereta antar negara, ada loketnya sendiri, gak bisa beli di vending machine. Area beli tiket antar negara ini bentuknya persis seperti bank. Ambil nomor antrian, nunggu dipanggil oleh teller, kemudian baru bilang ke teller-nya mau kemana jam berapa.

Sekian sedikit (?) cerita saya selama di Amsterdam. Nanti di hari terakhir, saya balik lagi ke Amsterdam, sih, jadi mungkin nanti ada cerita tambahan tentang Amsterdam di post terakhir. Okay, terima kasih sudah membaca. Nantikan cerita selanjutnya di Part 5 – Kortrijk! Bye-bye!

Solo Traveling ke Eropa – Part 3 – Mempersiapkan Perlengkapan Musim Dingin ke Eropa

Halo lagi.

Masih tentang jalan-jalan sendiri ke Eropa, kali ini saya akan membahas tentang packing. Dari segala hal yang harus diurus sebelum berangkat ke Eropa, packing adalah satu-satunya hal yang dibantu oleh Mama saya. Kemampuan packing Mama saya memang jauh lebih meyakinkan dibandingkan kemampuan saya. Jujur, sih, saya memang orangnya sangat clumsy, dikit-dikit lupa, dikit-dikit ketinggalan. Meanwhile, Mama saya orangnya super organized dan well-planned dalam segala perintilan di dunia ini. Jadi, terima kasih Mama sudah bantu-bantu packing sedemikian rupa sehingga kebutuhanku di Eropa terpenuhi semua. Mari kita bahas satu per satu.

Part 1 – Pakaian

Hal pertama yang perlu dipertimbangkan sebelum mempersiapkan pakaian yang akan dibawa adalah mengetahui persis bagaimana cuaca di sana. Karena saya pergi bulan Februari sampai Maret, sudah jelas bahwa di sana masih musim dingin. Bagaimana dengan cuaca? Selain sering cari tahu lewat Google Weather, saya juga follow berbagai macam akun instagram yang selalu update foto-foto di kota tersebut. Dari situ saya tahu bahwa di beberapa kota yang akan kunjungi masih sering hujan. Jadi, tidak ada salahnya membawa perlengkapan ekstra untuk mengantisipasi hujan. Basically, pakaian musim dingin itu terdiri dari empat lapis. Pertama, pastinya long john, kemudian kaos biasa, sweater, dan yang terakhir adalah mantel/coat.

First LayerLong John

Long john ini umumnya dipakai sebagai first layer pada musim dingin. Bentuknya ya pakaian ketat biasa aja sih, ada atasan dan bawahan. Long john ini bisa dibeli diberbagai macam tempat, misalnya di Toko Djohan – Mangga Dua, Laxmi di Kemang, bahkan sekarang pun long john bisa mudah ditemukan di Tokopedia. Kalau saya sendiri, saya memilih untuk beli long john di Uniqlo, pertama karena store-nya dekat rumah, kedua karena kualitasnya terjamin walaupun harganya agak mahal dibandingkan Toko Djohan, ketiga: Disuruh Mama, ya udahlah kalo udah disuruh Mama. Kalau di Toko Djohan, satu pasang long john harganya di bawah Rp100ribu, sedangkan di Uniqlo, atasannya Rp150ribu, bawahannya Rp200ribu. Untungnya, karena waktu itu sudah di penghujung musim dingin, atasannya diskon 50% hehe. Karena saya berencana pergi selama 11 hari, dan saya asumsikan satu pasang long john dipakai untuk 3 hari (iya, gak perlu ganti tiap hari karena gak keringetan juga), jadi saya beli 3 pasang. Di Uniqlo ini, long john-nya ada dua jenis, yang biasa dan yang extra warm. Untuk celana, saya pilih yang biasa, tapi untuk atasannya, saya pilih yang extra warm. Walaupun relatif lebih tipis dibandingkan long john pada umumnya, saya gak merasa dingin-dingin banget sih ketika sampai di sana.

Second Layer – Turtleneck Sweater dan Celana

Nah, untuk second layer, sebenernya bebas mau pakai kaos biasa atau apapun. Kalau saya memilih untuk pakai turtleneck sweater, alasannya adalah karena turtleneck sweater ini juga cukup ketat, jadi kalau long john-nya kurang hangat, seenggaknya saya akan cukup terbantu dengan sweater ini. Saya beli di Uniqlo juga, bahannya seperti wool tapi lumayan tipis, satu potong harganya Rp150ribu. Saya beli 3 potong, karena saya sudah punya beberapa turtleneck sweater di rumah.  Menurut saya, turtleneck sweater-nya Uniqlo ini best buy banget sih, karena selain cukup murah dibandingkan sweater lain, ternyata anget banget juga. Untuk second layer, saya membawa 6 potong, yang ternyata kebanyakan juga haha.

Untuk celana, saya bawa dua potong celana jeans biasa, dan dua potong celana khusus musim dingin yang bisa dibeli di toko perlengkapan musim dingin di Mal Ambassador, namanya Momo. Celana khusus musim dingin ini dari luar terlihat seperti legging biasa, tetapi sebenarnya bagian dalamnya sudah dilengkapi dengan wool untuk menghangatkan. Harganya lumayan mahal, satu potong Rp300ribu. Mereka juga menyediakan celana musim dingin versi murah yang tidak dilengkapi dengan wool, tetapi karena saya orangnya sering kedinginan di bagian kaki, jadi saya pilih yang aman saja. Versi murah ini kalau tidak salah harganya Rp150ribu. Nah, untuk bawahan, saya memang cuma pakai dua lapis saja, long john dan celana jeans/celana musim dingin. Walaupun cuma dua lapis, tapi sudah lumayan hangat, kok. Kuncinya adalah memilih long john yang tepat, hehe.

Third Layer – Knit Sweater

Untuk third layer, saya memilih untuk pakai knit sweater. Saya juga bawa 6 potong untuk 11 hari, memang agak kebanyakan sih, tapi gakpapa deh supaya terlihat ganti baju terus di foto haha. Kata Mama saya, pilih knit sweater yang bener-bener anget, karena banyak knit sweater yang terlihat tebal, tapi angetnya boongan (?). Kalau mau beli knit sweater secondhand, branded, murah, dan kualitasnya masih bagus, coba follow instagramnya @chasieducan. Banyak merk seperti H&M, Uniqlo, Zara, dll. Saya sering beli di situ karena pada dasarnya saya memang senang pakai knit sweater, dan jadinya saya tak perlu repot-repot beli sweater lagi ketika saya ingin berlibur di musim dingin. Mereka menjual sweater kualitas bagus dengan harga di bawah Rp100ribu. Recommended.

Fourth Layer – Coat

Yang terakhir adalah coat. Kalau kalian sudah memastikan tiga layer sebelumnya sudah cukup hangat, kalian bebas memilih coat apapun supaya terlihat cantik di foto, haha. Untuk fourth layer ini, saya bawa dua coat tebal, dan dua jaket tipis. Coat pertama punya Mama, gak tau beli di mana, tapi terbukti anget karena sudah beliau pakai kemana-mana, bentuknya seperti coat bulu angsa pada umumnya. Coat kedua saya beli sesimpel karena cutting-nya bagus banget dan warnanya abu-abu, warna kesukaan saya, haha. Dua jaket lainnya juga sudah punya dari lama. Nah, kalau kamu belum punya coat sama sekali dan cari yang murah, teman saya pernah menyarankan untuk beli di Pasar Senen, teman saya pernah beli coat yang super anget dan (kalau tidak salah) cuma Rp100ribu. Tapi memang harus rela ubek-ubek sih kalau di Pasar Senen. Kalau mau praktis dan kualitas terjamin, bisa juga beli di Toko Djohan – Mangga Dua, tapi modelnya standar gitu. Kalau mau yang sedikit lebih modis, bisa beli di Momo – Mal Ambassador, tapi harganya lumayan mahal, satu coat bisa Rp1,5juta. Nah, saran saya, pilih coat dengan warna netral, seperti hitam, abu-abu, coklat, dsb. Kenapa? Karena locals di sana kebanyakan memakai warna ini. Kalau kamu pilih warna-warna mencolok, sedang kamu orang Asia dan jalan-jalan sendiri pula, bisa mudah jadi incaran orang-orang jahat di sana. Hii.

Kaos kaki

Selanjutnya yang tidak kalah penting adalah kaos kaki, apalagi untuk kamu yang sering kedinginan di kaki (seperti saya). Untuk kaos kaki, saya bawa dua pasang kaos kaki wool tebal, beli di Momo – Mal Ambassador, harganya Rp75ribu per pasang. Kaos kaki ini ampuh banget, super anget apalagi ketika malam hari. Tiga pasang lainnya yang saya bawa kaos kaki biasa sih, sudah punya di rumah. Jadi, total saya bawa lima pasang kaos kaki. Nah, karena saya orangnya memang sering kedinginan di bagian kaki, saya juga bawa kaos kaki khusus tidur. Saya memang selalu bawa kaos kaki ini kemana-mana sih, bahkan ke tempat yang udaranya lembab seperti Bali.

Sepatu

Saya hanya bawa satu pasang sepatu ke Eropa, alasannya biar gak ribet. Saya bawa ankle boots yang sudah saya punya lama, lupa belinya di mana. Namun, ada baiknya juga kamu bawa sneakers karena lumayan capek juga pakai ankle boots kemana-mana, haha. Sebenarnya saya juga bawa satu pasang heels, tapi itu untuk keperluan conference saja.

Sarung tangan

Sebenarnya saya sudah membawa satu pasang sarung tangan milik Mama saya, tapi ternyata ketika sampai di sana, sarung tangannya gak ampuh. Akhirnya, saya beli sarung tangan di salah satu toko oleh-oleh di Amsterdam, harganya 5 euro. Menurut saya, model sarung tangan sebenarnya gak penting, yang penting cukup hangat dan touchscreen-able. Pusing banget kalau kalian harus buka sarung tangan setiap kali kalian buka handphone. Di Jakarta sendiri, kalian bisa beli sarung tangan di Toko Djohan atau Momo.

Scarf

Scarf atau syal sebenarnya optional aja, sih. Waktu itu pun sebenarnya saya berencana untuk tidak membawa syal sama sekali, tapi kebetulan banget dua hari sebelum berangkat, ketika saya di Bali, saya menemukan scarf cukup bagus dan diskon 70%, jadilah saya beli. Kalau kamu ingin cari scarf musim dingin yang murah dan banyak pilihan, kamu bisa cari di Tokopedia. Satu potong scarf cuma Rp80ribu, jauh lebih murah dibandingkan scarf di Momo atau Toko Djohan yang bisa mencapai Rp300ribu. Kalau kamu ingin scarf yang branded, seperti H&M, lebih baik kamu beli ketika sampai di sana, karena harganya jauh lebih murah dan pilihannya lebih banyak, mungkin karena Indonesia bukan negara empat musim, jadi barang yang masuk ke Indonesia lebih sedikit macamnya. Kalau di Indonesia harga scarf di H&M bisa mencapai Rp300ribu (bahkan ada yang Rp500ribu), di sana kamu bisa mendapatkan scarf dengan harga 7-10 euro.

Hijab

Untuk jilbab, saya bawa yang praktis saja, yaitu jilbab segi empat berbahan paris. Saya bawa 10 potong, yang sebenarnya warnanya itu-itu aja, sih, hitam, biru tua, beige. Saya bawa agak banyak karena takut lepek, keringetan, dan sebagainya. Tapi ternyata enggak, jadi sebenarnya cukup bawa 5-6 potong saja untuk 11 hari, apalagi kalau warnanya itu-itu aja, orang-orang juga gak tau kamu sudah gak ganti jilbab berapa hari, haha. Hal yang tidak kalah penting adalah membawa persediaan pentul/peniti. Ketika itu, saya bawa 1 tempat kecil khusus untuk menyimpan persediaan pentul.

Part 2 – Gadget

Gadget yang saya bawa ke Eropa, antara lain: Dua handphone, satu handphone milik saya, satu handphone Nokia lama milik Mama saya yang dilengkapi dengan layanan prabayar, buat jaga-jaga aja supaya bisa tetap menghubungi Mama kalau-kalau handphone saya mati atau tidak ada wi-fi (hehe maklum, saya memang berencana jadi fakir wi-fi aja dibandingkan beli simcard atau sewa wi-fi portable), lengkap dengan powerbank 24,000 mAh yang super super super berguna, ternyata powerbank bisa sebermanfaat itu ya.. maklum saya bukan orang yang pakai powerbank sehari-hari. Kemudian, saya juga bawa satu kamera mirrorless dan satu laptop. Bawa laptop untuk urusan conference sih. Nah, yang perlu diperhatikan sebenarnya adalah perkabelan. Tidak seperti di Singapore, kalau di Eropa, steker/colokannya dua lubang juga, kok. Kalau mau tahu bentuk colokan tiap negara, kamu bisa ke blog ini. Karena Mama saya sangat expert dalam hal per-charger-an, saya dibekali berbagai multi-plugs yang sebenarnya gak kepake juga sih (but thanks Mom for preparing). Multi-plugs ini bisa dibeli di ACE Hardware, dan menurut saya ini investasi yang bagus, sih, karena bakal berguna di negara apapun, UK, EU, US, dll. Dan yang terpenting adalah, kabel rol! Apalagi untuk kamu yang akan menginap di dorm yang 1 kamar isinya sekian orang, di mana satu orang cuma akan mendapatkan satu colokan. multi-plugs-uk-us-eu-au-9v-power-supply-for-arduino-robot

The so-called multi-plugs that mom prepared for me

Part 3 – Uang

Pertama, pastikan dulu mata uang apa saja yang berlaku di negara yang akan kalian kunjungi. Mayoritas negara yang akan saya kunjungi memakai mata uang Euro, kecuali Hungary yang memakai mata uang Forint. Namun, setelah melakukan riset sedikit, saya memutuskan untuk menukar Forint di local money changer saja ketika sampai di Budapest. Saya menukarkan uang di money changer biasa di Jakarta. Total uang yang saya bawa 2000 Euro, tapi tidak seluruhnya disimpan di dompet. Trik ini juga diajarkan oleh Mama saya dari saya kecil, kalau pergi kemana-mana, jangan simpan semua uang di dompet, karena amit-amit ilang, bingung deh ntar gimana pulangnya. Jadi, saya simpan sekitar 500 Euro di dompet untuk keperluan makan dan transport sehari-hari. 1000 Euro lainnya saya simpan di resleting tersembunyi di tas kecil saya yang saya bawa kemana-mana. Sementara 500 Euro lainnya saya simpan di dalam koper kecil saya.

Untuk Forint, saya akhirnya hanya menukar 100 Euro untuk 2 hari, cukup untuk makan, transport, dan beli oleh-oleh karena di Budapest harga barang-barangnya lumayan murah dibandingkan dengan kota lainnya. Jangan pernah menukarkan Forint banyak-banyak di BUD Airport, karena rate-nya jauh lebih mahal dibandingkan di money changer yang ada di pusat kota. Di part Budapest nanti, saya akan membahas lebih rinci mengenai per-uang-an dan segala tips and trick untuk traveling murah meriah di Budapest. Tunggu ya.

Part 4 – Makanan dan Snack

Jujur saya gak kayak kebanyakan orang yang bawa sambel, pop mie, rendang untuk perbekalan di sana, sih. Saya cuma bawa sekotak pie susu karena dua hari sebelum berangkat ke Eropa, kebetulan saya sedang di Bali, itu juga sisa oleh-oleh haha. Menurut saya, bawa snack lumayan penting, sih, karena ada beberapa momen di mana kamu gak bisa keluar karena cuaca buruk, atau sekadar kelaparan di malam hari.

Part 5 – Summary

Oke, jadi tadi saya sudah membahas barang-barang apa saja yang perlu dipersiapkan untuk berkelana di Eropa. Barang-barang tersebut saya masukkan di dua koper, satu koper besar dan satu koper kecil.

Koper besar

  1. 3 pasang long john
  2. 6 potong turtleneck sweater
  3. 6 potong knit sweater
  4. 2 coat tebal
  5. 2 jaket tipis
  6. 2 celana jeans
  7. 2 celana wool
  8. 5 pasang kaos kaki
  9. 1 pasang kaos kaki tidur
  10. 1 sarung tangan
  11. 1 scarf
  12. 10 jilbab square bahan paris
  13. 1 set pakaian formal untuk conference
  14. 1 pasang heels untuk conference
  15. 6 pasang pakaian dalam
  16. Perlengkapan mandi termasuk handuk
  17. Payung
  18. Vakum pakaian

Untuk koper besar ini, supaya semuanya muat, saya terlebih dahulu memasukan semua coat dan knit sweater ke dalam vacuum bag khusus traveling. Thanks to teman Mama yang meminjamkan dua vakumnya kepada saya.41j-t-7zRxL

My space saver!

Koper kecil

  1. Laptop yang disimpan di ransel
  2. Kamera
  3. 1 makeup pouch
  4. 1 pouch berisi charger dan multi-plugs
  5. Kabel rol
  6. 1 kotak pie susu
  7. 1 pouch untuk jarum pentul

Sling bag

  1. Dompet
  2. Paspor
  3. Headset
  4. Pulpen
  5. Fotokopi KTP dan Paspor yang disimpan di luar dompet

Kurang lebih seperti itu. Sekali lagi, terima kasih Mama sudah bantu-bantu packing! Sampai jumpa di part selanjutnya: Part 4 – Day 1-3: Amsterdam!

Solo Traveling ke Eropa – Part 2 – Membuat Visa Schengen

Halo lagi.

Selamat datang di Part 2 perjalanan solo saya ke Eropa. Part 1 nya bisa dibaca di sini.

Di post kali ini saya akan membahas tentang bagaimana cara mendapatkan Visa Schengen. Sebenernya susah-susah gampang, saya pun cuma modal baca-baca blog travelers, alhamdulillah lancar-lancar aja. Berikut pengalaman saya.

Jadi, rencana keberangkatan saya adalah tanggal 21 Februari 2017, dan saya (baru) mulai mengurus visa sekitar akhir Januari, atau 3 minggu sebelum keberangkatan. Dari beberapa blog yang saya baca, proses aplikasi Visa Schengen ini kurang lebih 2 minggu. Memang agak mepet, sih. Untungnya saya dapet visanya. Tapi menurut saya, sih, memang paling aman apply 90 hari sebelum keberangkatan, jadi kalau amit-amit visanya ditolak, kamu bisa apply ulang. Saya apply di VFS Belanda, tempatnya di Kuningan City, karena pesawat saya memang tujuan Amsterdam, dan dari total waktu kunjung, saya paling lama menghabiskan waktu di Belanda. Selain itu, menurut sejumlah blog yang saya baca, apply visa di VFS Belanda memang relatif lebih mudah dibandingkan dengan negara lain. Saya juga kurang paham, sih, karena saya memang belum pernah apply dari VFS negara lain.

Part 1 – Mempersiapkan Dokumen

Oke, hal pertama yang dilakukan adalah mempersiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan untuk apply visa, bisa dicek langsung di website VFS Belanda di sini. Nah, saya coba rangkum sebagai berikut.

Formulir Aplikasi Visa

Formulir ini berisi data diri biasa aja, sih, seperti nama, nomor identitas, alamat, berapa lama di Eropa, ke mana aja, tinggal di mana selama di sana, dan sebagainya. Formulirnya bisa langsung diunduh di sini. Kalau bisa diisi sebelum tiba di kantor VFS, jadi gak usah ribet-ribet lagi ketika sampai di kantor VFS.

Paspor asli

Paspor asli akan ditinggal karena visanya langsung ditempel di dalam paspor kita. Tapi jangan lupa siapkan juga  fotokopi paspor bagian depan, yang ada identitas pemilik paspornya. Waktu saya apply, saya memang agak terburu-buru dan gak sempet fotokopi segala macem, untungnya di kantor VFS ini menyediakan jasa fotokopi. Jadi saya fotokopi paspor (dan KTP) langsung di kantor VFS.

KTP

Ini berguna sebagai identitas sih, bukti kamu berdomisili di mana, kewarganegaraannya apa. Jadi, sebenarnya kalau sudah ada KTP, gak perlu lagi akte lahir atau kartu keluarga, kecuali kamu menyertakan surat sponsor dari orangtua, atau menyertakan rekening koran orangtua. Nah, saya juga fotokopi KTP di kantor VFS-nya langsung, karena gak sempet. Nah, lucunya, saya diminta petugasnya untuk menerjemahkan setiap kata yang ada dalam KTP ke dalam bahasa inggris. Gak tau sih sebenernya perlu banget apa nggak, karena ketika saya tanya teman-teman saya yang sudah pernah apply Visa Schengen, gak ada yang disuruh kayak gitu. Literally disuruh terjemahin satu per satu dari baris pertama sampai terakhir dan ditulis disebelah fotokopiannya. Haha.

Pas foto terbaru

(Lagi-lagi) karena saya terburu-buru mempersiapkan visa, saya gak sempet nyiapin foto. Emang dari awal niatnya langsung foto di kantor VFS-nya aja. Mereka menyediakan photobox gitu khusus untuk foto visa, jadi gak perlu takut foto yang kamu bawa ke petugas salah format dan sebagainya. Letak photobox-nya ada di satu ruangan dengan tempat mengantri. Untuk ketentuan foto sendiri, setau saya sih harus 3,5×4,5 cm, berwarna, dan komposisi muka harus 80% dari foto tersebut. Kalau foto yang kamu bawa tidak sesuai ketentuan, kemungkinan besar kamu diminta untuk foto ulang di photobox ini, keluar biaya lagi kan. Biaya foto di kantor VFS ini Rp50.000, lumayan mahal sih menurut saya, karena dapet fotonya juga cuma dikit dan ukurannya sama semua. After all, yang diserahkan ke petugas cuma 1 lembar, sisanya ya disimpen sendiri aja. Ketika saya apply, saya ambil nomor antrian, menunggu sampai nomor saya dipanggil, kemudian saya baru bilang ke petugas/teller-nya kalau saya belum punya foto, jadi saya harus kembali dulu ke photobox, foto, kemudian kembali ke si petugas. Repot euy.  Tips untuk kamu yang berencana foto langsung di kantor VFS: Setelah masuk ke ruang antrian, ambil nomor antrian terlebih dahulu, kemudian sembari menunggu, kamu ke tempat photobox-nya, jadi ketika nomor kamu dipanggil, kamu sudah pegang fotonya, gak perlu bolak-balik lagi kayak saya.

BLOGPOST - visa photo

How Schengen photo should look like

Bukti reservasi tiket pesawat

Waktu itu saya pede aja sih, jadi saya apply dengan tiket yang sudah issued. Namun, menurut beberapa blog yang saya baca, apply visa dengan tiket yang belum issued juga bisa, kok. Kali aja visanya ditolak kan, jadi bisa reschedule tiketnya. Print aja bukti reservasinya, yang penting menunjukkan kamu pergi ke mana tanggal berapa. Sebenernya yang dibutuhin cuma tiket PP dari dan ke Indonesia, intinya nunjukkin kapan kamu pergi dan pulang ke Indonesia. Namun, karena di Eropa nanti saya rencananya pindah kota pakai pesawat, jadi saya juga sertakan tiket pesawat dari Paris (CDG) – Budapest (BUD) dan Budapest (BUD) – Berlin (SXF). Supaya lebih meyakinkan aja.

Bukti reservasi penginapan

Selain nunjukkin kapan kamu pergi dan pulang, kamu juga harus nunjukkin di mana kamu menginap selama di Eropa. Umumnya sih, orang-orang akan menunjukkan bukti reservasi penginapan dari booking.com atau Airbnb. Kalau misalkan kamu menginap di tempat saudara atau teman, kamu bisa sertakan e-mail dari kenalan kamu tersebut yang menyatakan bahwa kamu akan menginap di tempat mereka, beserta alamat tempat tinggal yang bersangkutan. Saya sendiri, sih, reservasi penginapan lewat booking.com. Karena banyak penginapan yang kualitasnya bagus, harganya terjangkau, dan tidak ada cancellation fee-nya, cukup masukkan nomor kartu kredit. Kalau dari Airbnb kurang lebih sama, banyak akomodasi yang gak ada cancellation fee-nya. Tapi setelah saya bandingkan, ternyata untuk solo travel, booking.com relatif lebih murah. Mungkin akan ada 1 post terpisah di mana saya akan bahas tentang penginapan lebih rinci. Hehe.

Nah, ketika apply visa, saya tidak menyertakan bukti reservasi di Paris dan Berlin, karena di Paris belum ketemu penginapan yang pas dan di Berlin masih tentatif mau nginep di hotel atau di tempat teman. Sebenernya saya tahu trik “book aja dulu, nanti kalau udah dapet visanya, di-cancel aja”, tapi karena saya terburu-buru mempersiapkan visa ini, jadi gak sempet. Huhu. Petugasnya bilang, “Mba, ini kok gak ada ya penginapan di Paris dan Berlin? Bisa ditolak loh visanya.” Saya udah deg-degan aja, tuh. Jadi nyesel kenapa gak reserve asal dulu supaya lengkap aja dokumennya. Untung gak beneran ditolak. Jadi, tipsnya adalah: Kalau belum ketemu penginapan yang pas, asal book aja dulu untuk apply visa, nanti kalau visanya sudah dapet dan kamu ketemu penginapan yang lebih pas, kamu bisa cancel, toh di booking.com dan Airbnb, banyak kok penginapan yang gak ada cancellation fee-nya.

Itinerary / Rencana perjalanan

Untuk itinerary, kamu bisa bikin sendiri atau ngambil dari berbagai website traveling. Saya memilih untuk bikin itinerary sendiri, karena rute saya beda banget dari rute orang-orang kebanyakan, jadi gak bisa asal ambil dari suatu website gitu. Itung-itung juga saya sekalian cari tau dari satu kota ke kota lain harus naik apa jam berapa. Itinerary-nya harus sedetail apa, sih? Sebenarnya cuma keterangan hari itu kamu ada di kota apa, destinasinya kemana aja. Bahkan di itinerary yang saya pakai untuk mengajukan visa pun, saya cuma menyertakan tanggal dan destinasi-destinasi umum para turis di kota tersebut tanpa jam secara detail. Ketika membuat itinerary, saya pakai bantuan visitacity.com  Dari sejumlah website yang membantu penyusunan itinerary, saya paling suka website ini karena kita cukup memasukkan nama kota dan durasi perjalanan, kemudian secara otomatis kita akan ditunjukkan itinerary-nya lengkap dengan jam dan how to get from one place to another.

BLOGPOST - visitacity

What you’ll get from visitacity.com

Rekening koran 3 bulan terakhir

Ini berguna sebagai bukti bahwa you can actually survive in Europe. Pertama, dari rekening koran bisa keliatan monthly cashflow, kamu ada penghasilan tetap apa nggak, dan kamu punya uang cukup atau nggak untuk hidup di Eropa. Bahaya, kan, ngasih visa ke orang yang sebenernya gak punya uang, terus ujung-ujungnya jadi gelandangan (?) di sana. Nah, sebenernya gak ada minimal value di rekening kamu harus berapa, tapi coba itung aja 1 hari di Eropa itu misalkan perlu 50 euro, kalau 10 hari berarti 500 euro. Kalau rekening kamu gak sebanyak itu, bisa pakai rekening orangtua, tapi kamu juga wajib menyerahkan kartu keluarga sebagai bukti bahwa rekening koran tersebut memang milik orangtua kamu.

Slip gaji/kontrak kerja/surat pernyataan cuti

Intinya yang diperlukan sih dokumen yang menyatakan kamu bekerja dan akan kembali ke tanah air. Karena kantor saya gak dihitung cutinya, saya gak ada surat pernyataan cuti, jadi saya menyerahkan slip gaji dan kontrak kerja saya. Untuk kamu yang masih sekolah atau kuliah, bisa menyerahkan dokumen apapun yang menyatakan kamu terdaftar di sekolah/universitas tersebut dan surat dari sponsor yang membiayai kamu selama perjalanan ke Eropa, dari orangtua juga bisa. Untuk kamu yang pengusaha, bisa menyerahkan SIUP & TDP.

Asuransi perjalanan

Dari berbagai asuransi perjalanan yang tersedia, saya memilih asuransi AXA Smart Traveller. Sesimpel karena bisa apply online dan langsung dokumennya langsung dikirim ke e-mail sesaat setelah kamu bayar. Bayarnya lewat bank transfer, jadi alurnya sama persis seperti belanja di online shop. Saya buat asuransi perjalanan H-1 pengajuan visa, lagi-lagi karena terburu-buru. Nantinya, yang diserahkan ke petugas hanya bukti pembayaran asuransi, jadi kamu tidak perlu print bagian policy yang berlembar-lembar itu. Total biaya yang saya keluarkan untuk asuransi ini Rp550.000.

Uang tunai untuk biaya visa

Semua pembayaran di kantor VFS harus tunai, jadi jangan lupa siapkan uang tunai untuk pengajuan Visa Schengen. Total biaya yang saya keluarkan sekitar Rp1.250.000, terdiri dari Rp870.000 (60 euro) untuk biaya visa, Rp350.000 untuk biaya administrasi VFS, dan Rp30.000 untuk additional service yaitu notifikasi melalui SMS dan e-mail terkait status visa kamu. Ada beberapa biaya tambahan kalau kamu apply untuk visa jangka panjang, atau visa transit di negara yang tidak termasuk Schengen area, lengkapnya bisa kamu cek di sini.

Part 2 – Mengajukan Appointment

Setelah semua dokumen siap, langkah selanjutnya adalah mengajukan appointment ke kantor VFS. Langkah ini bisa dilakukan dengan sangat mudah melalui website VFS di sini. Cukup menginput tanggal serta jam appointment-nya, kemudian surat undangan akan dikirim langsung ke e-mail kalian. Satu appointment bisa digunakan untuk maksimal 5 aplikan, jadi kalau misalkan kamu pergi bergrup, cukup satu orang saja yang buat appointment. Tips: Sebaiknya kamu book appointment dari jauh-jauh hari, karena di beberapa period, khususnya ketika sedang peak season, bisa saja sudah full-booked sampai sebulan ke depan. Kebetulan waktu itu bukan peak season, jadi saya masih dapat slot walaupun booking-nya H-1 appointment.

Part 3 – Proses Aplikasi di Kantor VFS Belanda

First thing first: Usahakan tepat waktu. Appointment saya seharusnya jam 08.00, tapi saya baru tiba jam 08.30. Karena macet banget sih, apalagi Kuningan di pagi hari, hari kerja pula. Saya sudah berencana untuk reschedule karena saya tahu saya akan telat, namun ternyata menurut website VFS, cancellation itu maksimal 24 jam sebelum appointment. Saya coba cari nomor telepon kantor VFS untuk reschedule, ternyata mereka gak ada nomor telepon yang bisa dihubungi. Alhasil saya pasrah aja, untungnya sesampainya di sana, saya tetap boleh masuk.

Nah, walaupun kamu sudah punya appointment, sebenarnya kamu diharuskan mengantri lagi bersama sejumlah orang yang appointment-nya juga di rentang waktu tersebut. Misalkan pada rentang waktu 08.00-09.00 ada 20 orang yang apply, nah nanti kamu akan mengantri bersama orang-orang tersebut, tergantung siapa yang lebih dulu datang. Mungkin karena itu juga saya tetap dibolehkan masuk walaupun saya datang jam 08.30. Mungkin kalau saya datang di atas jam 09.00, baru saya tidak diperbolehkan masuk karena istilahnya sudah masuk ke slot yang berbeda. Di security check, kamu juga akan langsung diberi nomor antrian oleh petugasnya. Jadi di dalam ruangan, tinggal nunggu dipanggil aja, deh.

Sebelum masuk ke ruang antrinya, saya diharuskan meninggalkan laptop di tempat penitipan (Dan harus bayar! Kalau gak salah Rp22.000), menyerahkan appointment letter (nunjukkin e-mail dari handphone juga bisa, gak perlu di-print), dan mematikan handphone. Di ruangan antrian ini, kamu tidak diperbolehkan menyalakan handphone, jadi supaya gak mati gaya (apalagi waktu itu saya sendirian apply-nya), lebih baik bawa buku supaya ada kerjaan selagi mengantri. Beberapa orang yang apply sendirian juga bawa buku, kok, tenang aja.

Pertama, kamu akan dipanggil oleh petugas yang akan mengecek kelengkapan dokumen. Mungkin kamu akan ditanya satu-dua pertanyaan standar seperti, “Mau ngapain di Eropa?” “Sendiri aja?” “Berapa lama?” dan sebagainya. Jika seluruh dokumen sudah lengkap, kamu akan diminta untuk mengantri lagi ke loket pembayaran.  Setelah membayar, kamu akan diminta untuk mengantri lagi untuk pengambilan data biometrik, itu cetak sidik jari aja sih sebenernya. Seluruh proses ini memerlukan waktu sekitar 90 menit.

Umumnya, visa akan jadi setelah 14 hari. Namun, visa saya jadi sekitar 3 hari kerja, lumayan cepat sih dibandingkan orang-orang kebanyakan. Karena saya membayar untuk additional service, saya mendapatkan notifikasi via SMS dan e-mail ketika visa saya sudah jadi. Visa bisa diambil langsung di kantor VFS, jangan lupa membawa bukti pembayaran visa ketika ingin mengambil visa.

Lanjut ke Part 3 ya, saya akan membahas tentang packing! Daah!

Solo Traveling ke Eropa – Part 1 – Ketika Semuanya Berawal

Halo.

Pada Februari 2017, saya berencana berlibur ke Eropa. Sendiri, hehe. Perjalanan ini memang sudah saya rencanakan sejak akhir tahun 2016. Awalnya, sih, karena alhamdulillah saya mendapatkan kesempatan untuk mempresentasikan paper (re: skripsi) saya di suatu international conference yang diselenggarakan di Kortrijk, Belgium. Karena tiket pesawat, visa, akomodasi, dan uang saku di-cover oleh universitas, saya memutuskan untuk extend di Eropa untuk liburan. Lumayan banget, daripada ke Eropa tapi cuma 3 hari ke Belgium, lebih baik saya sekalian berlibur, toh kantor saya pun membebaskan karyawannya untuk ambil cuti.

Hal pertama yang dilakukan tentunya adalah menentukan durasi liburan dan destinasinya. Jujur, awalnya saya buta banget tentang liburan ke Eropa. Saya cuma mengandalkan googling dan tanya-tanya teman ketika saya merencanakan perjalanan ini. Itu juga salah satu motivasi saya untuk menulis tentang solo traveling ke Eropa, harapannya dapat membantu teman-teman yang buta seperti saya. Hehe. Saya punya 11 hari, dan ketika itu sedang winter, jadi setelah membaca sejumlah blog para travelers, saya akhirnya menentukan tujuan ke 5 kota ini:

Day 0: Fly to Amsterdam from Jakarta
Day 1-2: Amsterdam, Netherlands
Day 3-5: Kortrijk, Belgium
Day 5-7: Paris, France
Day 7-9: Budapest, Hungary
Day 9-11: Berlin, Germany
Day 11: Fly back to Jakarta from Amsterdam

Sebenarnya ada beberapa kota yang ingin saya kunjungi juga, namun karena waktunya terbatas, jadi akhirnya tidak sempat, seperti Brugge dan Antwerp di Belgium, Prague di Czech, Vienna di Austria, dan beberapa kota di Germany, seperti Cologne dan Frankfurt. Dari rute saya di atas, memang muter-muter banget sih, dibilang West Europe bukan, East Europe juga bukan. Itu, sih, enaknya rencanain perjalanan sendiri tanpa tour dan sebagainya. Oh ya, kenapa terbang PP nya lewat Amsterdam? Karena paling murah! Saya beli tiket dari suatu agen gitu, maskapainya Garuda Indonesia. Dibanding ke kota lain, paling murah lewat Amsterdam, dan ini direct flight juga, jadi langsung aja saya beli. Lanjut ke Part 2 ya, saya akan bahas seputar mempersiapkan Visa Schengen. Daah!